Monday, September 23, 2019

Puisi Kahlil Gibran tentang Alam


Suara Alam

Ketika burung bernyanyi, 
apakah mereka memanggil bunga-bunga 
di ladang, atau apakah mereka berbicara kepada pepohonan, 
atau apakah mereka menggemakan 
gumaman sungai-sungai?

Sebab manusia dengan pengertiannya tidak dapat 
mengetahui apa yang dikatakan burung,
atau apa yang digumamkan sungai, 
atau apa yang dibisikkan gelombang 
ketika mereka menyentuh pantai 
dengan perlahan-lahan serta lembut.

Manusia dengan pengertiannya 
tidak dapat mengetahui apa yang dikatakan hujan 
ketika jatuh di atas dedaunan pepohonan 
atau ketika menyentuh jendela.

Ia tidak dapat mengetahui apa yang dikatakan 
hembusan angin kepada bunga-bunga di ladang.

Tetapi hati manusia dapat merasakan serta memahami 
makna suara-suara ini yang memainkan perasaannya.

Hikmat kekal seringkali berbicara kepadanya 
dengan bahasa yang misterius, 
jiwa dan alam bercakap bersama-sama. 
Sementara manusia berdiri tak dapat berkata apa-apa 
serta bingung.

Tetapi bukankah manusia telah menangis 
mendengar suara-suara ini? 
Dan bukankah air matanya itu pengertian yang fasih? 

<<*>>


Antara Pagi dan Malam Hari

Tenanglah hatiku, karena langit tak juga mendengar
Tenanglah, karena bumi dibebani dengan ratapan kesedihan.
Dia takkan melahirkan melodi dan nyanyianmu.
Tenanglah, karena roh-roh malam tak menghiraukan
bisikan rahasiamu, dan bayang-bayang tak berhenti
di hadapan mimpi-mimpi.
Tenanglah, hatiku. Tenanglah hingga fajar tiba,
karena dia yang menanti pagi dengan sabar
akan menyambut pagi dengan kekuatan.
Dia yang mencintai cahaya, dicintai cahaya.
Tenanglah hatiku, dan dengarkan ucapanku.

Dalam mimpi aku melihat seekor murai bernyanyi 
saat dia terbang di atas kawah gunung berapi yang meletus.
Kulihat sekuntum bunga Lili menyembulkan kelopaknya 
di balik salju.
Kulihat seorang bidadari menari-menari 
di antara batu-batu kubur.
Kulihat seorang anak tertawa sambil bermain 
dengan tengkorak-tengkorak.
Kulihat semua makhluk ini dalam sebuah mimpi. 
Ketika aku terjaga dan memandang ke sekelilingku, 
kulihat gunung berapi memuntahkan nyala api, 
tapi tak kudengar murai bernyanyi, 
juga tak kulihat dia terbang.
Kulihat langit menaburkan salju 
di atas padang dan lembah, 
dilapisi warna putih mayat dari bunga lili yang membeku.
Kulihat kuburan-kuburan, berderet-deret, 
tegak di hadapan zaman-zaman yang tenang. 
Tapi tak satu pun kulihat di sana 
yang bergoyang dalam tarian, 
juga tidak yang tertunduk dalam doa.
Saat terjaga, kulihat kesedihan dan kepedihan; 
ke manakah perginya kegembiraan dan kesenangan impian?
Mengapa keindahan mimpi lenyap, dan bagaimana 
gambaran-gambarannya menghilang? 
Bagaimana mungkin jiwa tertahan 
sampai sang tidur membawa kembali roh-roh 
dari hasrat dan harapannya?

Dengarlah hatiku, dan dengarlah ucapanku.
Semalam jiwaku adalah sebatang pohon yang kukuh dan tua,
menghunjam akar-akarnya ke dasar bumi
dan cabang-cabangnya mencekau ke arah yang tak terhingga.
Jiwaku berbunga di musim bunga,
memikul buah pada musim panas. 

Pada musim gugur kukumpulkan buahnya 
di mangkuk perak dan kuletakkan di tengah jalan. 
Orang-orang yang lalu lalang  mengambil dan memakannya, 
serta meneruskan perjalanan mereka.

Kala musim gugur berlalu dan gita pujinya
bertukar menjadi lagu kematian dan ratapan,
kudapati semua orang telah meninggalkan
diriku kecuali satu-satunya buah di talam perak.
Kuambil ia dan memakannya,
dan merasakan pahitnya bagai kayu gaharu,
masam bak anggur hijau.
Aku berbicara dalam hati,
“Bencana bagiku, karena telah kutempatkan sebentuk laknat
di dalam mulut orang-orang itu,
dan permusuhan dalam perutnya.
“Apa yang telah kaulakukan, jiwaku, dengan kemanisan
akar-akarmu itu yang telah meresap dari usus besar bumi,
dengan wangian daun-daunmu yang telah meneguk
cahaya matahari?”
Lalu kucabut pohon jiwaku yang kukuh dan tua.
Kucabut akarnya dari tanah liat yang di dalamnya dia telah
bertunas dan tumbuh dengan subur.
Kucabut akar dari
masa lampaunya, menanggalkan kenangan
seribu musim bunga dan seribu musim gugur.
Dan kutanam sekali lagi pohon jiwaku di tempat lain.
Kutanam dia di padang yang tempatnya jauh
dari jalan-jalan waktu.
Kulewatkan malam dengan terjaga di sisinya, sambil berkata,
“Mengamati bersama malam yang membawa kita mendekati
kerlipan bintang.”
Aku memberinya minum dengan darah dan airmataku,
sambil berkata,
“Terdapat sebentuk keharuman dalam darah,
dan dalam air mata sebentuk kemanisan.”
Tatkala musim bunga tiba, jiwaku berbunga sekali lagi.

Pada musim panas jiwaku menyandang buah. 
Tatkala musim gugur tiba, kukumpulkan buah-buahnya 
yang matang di talam emas dan kuletakkan di tengah jalan. 
Orang-orang melintas, satu demi satu atau dalam 
kelompok-kelompok, tapi tak satu pun mengulurkan tangannya untuk mengambil bagiannya.
Lalu kuambil sebuah dan memakannya, 
merasakan manisnya bagai madu pilihan, 
lezat seperti musim bunga dari syurga, 
sangat menyenangkan laksana anggur Babylon, 
wangi bak wangi-wangian dari melati.
Aku menjerit, “Orang-orang tak menginginkan rahmat 
pada mulutnya atau kebenaran dalam usus mereka, 
karena rahmat adalah puteri airmata dan kebenaran 
putera darah!”Lalu aku beralih dan duduk di bawah bayangan pohon sunyi jiwaku di sebuah padang yang tempatnya jauh 
dari jalan waktu.

Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba.
Tenanglah, karena langit menghembus bau amis kematian
dan tak bisa meminum nafasmu.
Dengarkan, hatiku, dan dengarkan aku bicara.
Semalam pikiranku adalah kapal yang terombang-ambing
oleh gelombang laut dan digerakkan oleh angin
dari pantai ke pantai
Kapal pikiranku kosong kecuali untuk tujuh cawan yang dilimpahi dengan warna-warna, gemilang berwarna-warni.
Sang waktu datang kala aku merasa jemu terapung-apungan di atas permukaan laut dan berkata,
“Aku akan kembali ke kapal kosong pikiranku
menuju pelabuhan kota tempat aku dilahirkan.”
Tatkala kerjaku selesai, kapal pikiranku
Aku mulai mengecat sisi-sisi kapalku dengan warna-warni -
kuning matahari terbenam,
hijau musim bunga baru,
biru kubah langit,
merah senjakala yang menjadi kecil.
Pada layar dan kemudinya
kuukirkan susuk-susuk menakjubkan,
menyenangkan mata dan menyenangkan penglihatan.
Tatkala kerjaku selesai,
kapal pikiranku laksana pandangan luas seorang nabi,
berputar dalam ketidakterbatasan laut dan langit.
Kumasuki pelabuhan kotaku,
dan orang muncul menemuiku dengan pujian
dan rasa terima kasih.
Mereka membawaku ke dalam kota, memukul gendang
dan meniup seruling. Ini mereka lakukan karena bagian luar kapalku
yang dihias dengan cemerlang, tapi tak seorang pun masuk
ke dalam kapal pikiranku.
Tak seorang pun bertanya apakah yang kubawa dari seberang lautan
Tak seorang pun tahu kenapa aku kembali
dengan kapal kosongku ke pelabuhan.
Lalu kepada diriku sendiri, aku berkata,
“Aku telah menyesatkan orang-orang,
dan dengan tujuh cawan warna telah kudustai mata mereka”
Setelah setahun aku menaiki kapal pikiranku
dan kulayari di laut untuk kedua kalinya.
Aku berlayar menuju pulau-pulau timur,
dan mengisi kapalku dengan dupa dan kemenyan,
pohon gaharu dan kayu cendana.
Aku berlayar menuju pulau-pulau barat,
dan membawa bijih emas dan gading, batu merah delima
dan zamrud, dan sulaman serta pakaian warna merah lembayung.
Dari pulau-pulau selatan aku kembali
dengan rantai dan pedang tajam, tombak-tombak panjang,
serta beraneka jenis senjata.
Aku mengisi kapal pikiranku dengan harta benda dan
barang-barang hasil bumi dan kembali ke pelabuhan kotaku,
sambil berkata, “Orang-orangku pasti akan memujiku,
memang sudah pastinya.
Mereka akan menggendongku ke dalam kota
sambil menyanyi dan meniup trompet”
Tapi ketika aku tiba di pelabuhan,
tak seorangpun keluar menemuiku.
Ketika kumasuki jalan-jalan kota,
tak seorang pun memperhatikan diriku.
Aku berdiri di alun-alun sambil mengutuk pada orang-orang bahwa aku membawa buah dan kekayaan bumi.
Mereka memandangku, mulutnya penuh tawa,
cemoohan pada wajah mereka. Lalu mereka berpaling dariku.
Aku kembali ke pelabuhan, kesal dan bingung.
Tak lama kemudian aku melihat kapalku.
Maka aku melihat perjuangan dan harapan dari perjalananku yang menghalangi perhatianku. Aku menjerit.
Gelombang laut telah mencuri cat dari sisi-sisi kapalku,
tak meninggalkan apa pun kecuali tulang belulang
yang bertaburan. Angin, badai dan terik matahari
telah menghapus lukisan-lukisan dari layar,
memudarkan ia seperti pakaian berwarna kelabu dan usang.
Kukumpulkan barang-barang hasil dan kekayaan bumi
ke dalam sebuah perahu yang terapung di atas permukaan air.
Aku kembali ke orang-orangku, tapi mereka menolak diriku karena mata mereka hanya melihat bagian luar.
Pada saat itu kutinggalkan kapal pikiranku dan
pergi ke kota kematian. Aku duduk di antara kuburan-kuburan
yang bercat kapur, merenungkan rahasia-rahasianya.

Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba.
Tenanglah, meskipun prahara yang mengamuk 
mencerca bisikan-bisikan batinmu, 
dan gua-gua lembah takkan menggemakan bunyi suaramu.
Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba. 
Karena dia yang menantikan 
dengan sabar hingga fajar, pagi hari akan memeluknya 
dengan semangat.

Nun di sana! Fajar merekah, hatiku.
Bicaralah, jika kau mampu bicara!
Itulah arak-arakan sang fajar, hatiku!
Akankah hening malam melumpuhkan kedalaman hatimu
yang menyanyi menyambut fajar?
Lihatlah kawanan merpati dan burung murai melayang di atas lembah. Akankah kengerian malam
menghalangi engkau untuk menduduki sayap bersama mereka?
Para penggembala memandu kawanan dombanya
dari tempat ternak dan kandang.
Akankah roh-roh malam menghalangimu
untuk mengikuti mereka ke padang rumput hijau?
Anak lelaki dan perempuan bergegas menuju kebun anggur.
Kenapa kau tak beranjak dan berjalan bersama mereka?
Bangkitlah, hatiku, bangkit dan berjalan bersama fajar,
karena malam telah berlalu.
Ketakutan malam lenyap bersama mimpi gelapnya.
Bangkitlah, hatiku, dan lantangkan suaramu dalam nyanyian, karena hanya anak-anak kegelapan yang gagal menyatu
ke dalam nyanyian sang fajar.

<<*>>


Batu Kelapa

Dua muda bercermin cahaya,
sesaat terik melepas biasnya di perigi harap
 Jengkal waktu merayap malas, 
bertali dua perempuan paruh nafas luruh di tepi daun kaca:
merayu sepasang batu kelapa, terpukul nyata.
Keajaiban bagai memikat beliung
rasa dua muda itu, dan gegas melambung
paruh demi sepasang batu kelapa;
memundak gersang terka.

Tak lama batu kelapa menanak
santannya di tempurung berekor bulu.
Mengasah dua muda untuk menilik: adanya
kisah batu di kelapa selepas gelap.

<<*>>


Lagu Ombak

Pantai yang perkasa adalah kekasihku,
Dan aku adalah kekasihnya,
Akhirnya kami dipertautkan oleh cinta,
Namun kemudian Bulan menjarakkan aku darinya.
Kupergi padanya dengan cepat
Lalu berpisah dengan berat hati.
Membisikkan selamat tinggal berulang kali.

Aku segera bergerak diam-diam
Dari balik kebiruan cakerawala
Untuk mengayunkan sinar keperakan buihku
Ke pangkuan keemasan pasirnya
Dan kami berpadu dalam adunan terindah.

Aku lepaskan kehausannya
Dan nafasku memenuhi segenap relung hatinya
Dia melembutkan suaraku dan mereda gelora di dada.
Kala fajar tiba, kuucapkan prinsip cinta
di telinganya, dan dia memelukku penuh damba

Di terik siang kunyanyikan dia lagu harapan
Diiringi kecupan-kecupan kasih sayang
Gerakku pantas diwarnai kebimbangan
Sedangkan dia tetap sabar dan tenang.
Dadanya yang bidang meneduhkan kegelisahan
Kala air pasang kami saling memeluk
Kala surut aku berlutut menjamah kakinya
Memanjatkan doa

Seribu sayang, aku selalu berjaga sendiri
Menyusut kekuatanku.
Tetapi aku pemuja cinta,
Dan kebenaran cinta itu sendiri perkasa,
Mungkin kelelahan akan menimpaku,
Namun tiada aku bakal binasa.

<<*>>


Pulau

Kehidupan adalah sebuah pulau di samudera kesepian.
Sebuah pulau yang batu-batu karangnya
adalah pengharapan,
yang pepohonannya adalah impian,
yang bunga-bungaannya adalah kesendirian,
dan yang sungai-sungainya adalah dahaga.

Kehidupanmu, saudara-saudaraku, 
adalah sebuah pulau yang terpisah dari semua pulau 
serta wilayah lainnya. Seberapa banyakpun kapal yang berangkat dari pantaimu 
menuju iklim lain, 
seberapa banyakpun armada yang berlabuh di pantaimu, 
engkau tetaplah pulau yang tersendiri, 
menderita kesepian, dan mendambakan kebahagiaan 
Engkau tidak dikenal oleh sesamamu manusia, 
dan jauh dari simpati serta pengertian mereka.

<<*>>


Mimpi

Kala malam datang dan rasa kantuk 
membentangkan selimutnya di wajah bumi, 
aku bangun dan berjalan ke laut, 
“Laut tidak pernah tidur, 
dan dalam keterjagaannya itu laut 
menjadi penghibur bagi jiwa yang terjaga.”

Ketika aku sampai di pantai, kabut dari gunung 
menjuntaikan kakinya seperti selembar jilbab 
yang menghiasi wajah seorang gadis. 
Aku melihat ombak yang berdeburan. 
Aku mendengar puji-pujiannya kepada Tuhan 
dan bermeditasi di atas kekuatan abadi yang tersembunyi 
di dalam ombak-ombak itu– 
kekuatan yang lari bersama angin, 
mendaki gunung, tersenyum lewat bibir sang mawar 
dan menyanyi dengan desiran air 
yang mengalir di parit-parit.
Lalu aku melihat tiga Putera Kegelapan 
duduk di atas sebongkah batu. 
Aku menghampirinya seolah-olah ada kekuatan 
yang menarikku tanpa aku dapat melawannya.

Aku berhenti beberapa langkah dari Putera Kegelapan itu 
seakan-akan ada tenaga magis yang menahanku. 
Saat itu, salah satunya berdiri dan dengan suara 
yang seolah berasal dari dalam laut ia berkata:
“Hidup tanpa cinta ibarat pohon 
yang tidak berbunga dan berbuah. 
Dan cinta tanpa keindahan seperti bunga
tanpa aroma semerbak
dan seperti buah tanpa biji. 
Hidup, cinta dan keindahan adalah tiga dalam satu, 
yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah.”

Putera kedua berkata dengan suara bergema 
seperti air terjun,
“Hidup tanpa berjuang seperti empat musim 
yang kehilangan musim bunganya. 
Dan perjuangan tanpa hak seperti padang pasir yang tandus. 
Hidup, perjuangan dan hak adalah tiga dalam satu 
yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah.”

Kemudian Putera ketiga membuka mulutnya 
seperti dentuman halilintar:

“Hidup tanpa kebebasan seperti tubuh tanpa jiwa, 
dan kebebasan tanpa akal seperti roh yang kebingungan. 
Hidup, kebebasan dan akal adalah tiga dalam satu,
abadi dan tidak pernah sirna.”
Selanjutnya ketiga-tiganya berdiri 
dan berkata dengan suara yang menggerunkan sekali:

Itulah anak-anak cinta,
Buah dari perjuangan,
Akibat dari kebebasan,
Tiga manifestasi Tuhan,
Dan Tuhan adalah ungkapan
dari alam yang bijaksana.

Saat itu diam melangut, 
hanya gemersik sayap-sayap yang tak nampak 
dan getaran tubuh-tubuh halus yang terus-menerus.

Aku menutup mata dan mendengar gema 
yang baru saja berlalu. 
Ketika aku membuka mataku, 
aku tidak lagi melihat Putera-putera Kegelapan itu, 
hanya laut yang dipeluk halimunan. 
Aku duduk, tidak memandang apa-apa pun 
kecuali asap dupa 
yang menggulung ke syurga.

<<*>>


Musim Bunga

Marilah, sayang, 
mari berjalan menjelajahi perbukitan,
Salju telah cair dan Kehidupan telah terjaga 
dari lenanya
dan kini mengembara menyusuri pegunungan 
dan lembah-lembah,
Mari kita ikut jejak-jejak Musim Bunga, 
yang melangkahi
Ladang-ladang jauh, 
dan mendaki puncak-puncak perbukitan
'Tuk menadah ilham dari aras ketinggian,
Di atas hamparan ngarai nan sejuk kehijauan.

Fajar Musim Bunga telah mengeluarkan pakaiannya
dari lipatan simpanan, dan menyangkutnya
pada pohon pic dan sitrus, dan mereka kelihatan 
bagai pengantin 
dalam upacara tradisi Malam Kedre.

Sulur-sulur daun anggur saling berpelukan
bagai kekasih
Air kali pun lincah berlompatan menari ria,
Di sela-sela batuan, 
menyanyikan lagu riang.

Dan bunga-bunga bermekaran dari jantung alam,
Laksana buih-buih bersemburan, 
dari kalbu lautan

Kemarilah, sayang: 
mari meneguk sisa air mata musim dingin, 
dari gelas kelopak bunga lili,
Dan menenangkan jiwa, 
dengan gerimis nada-nada
Curahan simfoni burung-burung yang berkicauan
dan berkelana riang dalam bayu mengasyikkan

Mari duduk di batu besar itu, tempat bunga violet
berteduh dalam persembunyian, dan meniru
Kemanisan mereka 
dalam pertukaran kasih rindu.

<<*>>


Musim Dingin

Mendekatlah ke mari,
oh teman sepanjang hidupku,
Mendekatlah padaku,
dan jangan biarkan sentuhan Musim Dingin,
Mencelah di antara kita.
Duduklah disampingku di depan tungku,
Sebab nyala api adalah satu-satunya nyawa musim ini.

Bicaralah padaku 
tentang kekayaan hatimu,
Yang jauh lebih besar daripada unsur Alam 
yang menggelodak
di luar pintu.

Palanglah pintu dan patri engselnya,
Sebab wajah angkasa menekan semangatku
Dan pemandangan ladang-ladang salju
Menimbulkan tangis dalam jiwaku.
Tuangkan minyak ke dalam lampu,
jangan biarkan ia pudar,
Letakkan dekat wajahmu,
supaya aku boleh membaca dalam tangis
Apa yang telah ditulis pada wajahmu
Tentang kehidupan kau bersamaku..

Berilah aku anggur Musim Gugur, 
dan mari minum bersama
Sambil mendendangkan lagu kenangan 
pada gairah Musim Bunga
Dan layanan hangat Musim Panas, 
serta anugerah tuaian dari Musim Gugur.

Mendekatlah padaku,
oh kekasih jiwaku;
api mendingin dalam tungku,
Menyelinap padam nyalanya satu-satu,
dari timbunan abu

Dekaplah aku, 
sebab aku ngeri akan kesepian.
Lampu meredup, 
dan anggur minuman
membuat mata sayu mengatup.
Mari kita saling berpandangan, 
sebelum mata tertutup.
Cari aku dengan rabaan, 
temui daku dalam pelukan
Lalu biarkan kabut malam 
merangkul jiwa kita menjadi satu

Kecuplah aku, kekasihku,
karena Musim Dingin,
Telah merenggut segala,
kecuali bibir yang berkata:
Engkau dalam dekapan,
oh Kekasihku Abadi,
Betapa dalam dan kuat samudera lena,
Dan betapa cepatnya subuh...

<<*>>


Sebutir Debu

Adalah sebutir debu…
Meringkuk kedinginan… 
Mengitari bumi tanpa rona
Selimut kecilnya tersapu angkasa
Rajut penghangatnya tercerai tanpa janji

Rindu…
Masih mendekam dalam setiap detak jantung nafasnya
Walau hanya sekedar sapa... 
hanya sebatas tanya

Di setiap penat letih dan keterpurukannya
Dia berlari di tengah gurun gulita
Mengais-ais oase kehangatan

Bintang di tirai angkasa, 
tak cukup untuk menghangatkannya
Mencari bulan, namun raib
Mentari, ia pun terlelap.

Biarkan....
Biarkan saja dia sendiri
Menikmati renungan gulita
Biarkan sang raja malam mengurungnya
Memenjarakannya dalam gelap
Menghangatkan diri sendiri 
di perapian bagaskara.

<<*>>

Puisi Kahlil Gibran tentang Keluarga

Anak

Dan seorang perempuan yang menggendong bayi 
dalam dekapan dadanya berkata, 
Bicaralah pada kami perihal Anak.

Dan dia berkata:
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu 
akan dirinya sendiri
Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu
tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, 
tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, 
tapi bukan jiwa mereka
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, 
yang tak pernah dapat engkau kunjungi 
meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka,
tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
karena hidup tidak berjalan mundur 
dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anakmu 
menjadi anak-anak panah yang siap diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian, 
dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya, 
sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur 
dengan cepat dan jauh.
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu 
sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, 
maka ia juga mencintai busur teguh 
yang telah meluncurkannya
dengan sepenuh kekuatan.

<>-*-<>


Ibu

Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan
oleh bibir-bibir manusia.
Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, 
manis dan syahdu yang memancar 
dari kedalaman jiwa.

Ibu adalah segalanya. 
Ibu adalah penegas kita dikala lara, 
impian kita dalam nestapa, 
rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, 
kemuliaan, 
kebahagiaan dan toleransi. 
Siapa pun yang kehilangan ibunya, 
ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa
merestui dan memberkatinya.

Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. 
Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya.
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi 
sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, 
syahdu tembang burung-burung dan sungai-sungai.

Bumi adalah ibu pepohonan dan bunga-bunga. 
Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya. 
Pepohonan dan bunga-bunga adalah ibu yang tulus 
memelihara buah-buahan dan biji-bijian.

Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.
Penuh cinta dan kedamaian.

<>-*-<>



Tanya Sang Anak

Konon di suatu desa terpencil
Terdapat sebuah keluarga
Terdiri dari sang ayah dan ibu
Serta seorang anak gadis muda dan naif!

Pada suatu hari sang anak bertanya pada sang ibu!
“Ibu! Mengapa aku dilahirkan wanita?”
Sang ibu menjawab, 
“Karena ibu lebih kuat dari ayah!”
Sang anak terdiam dan berkata, 
“Kenapa jadi begitu?”

Sang anak pun bertanya kepada sang ayah!
“Ayah! Kenapa ibu lebih kuat dari ayah?”
Ayah pun menjawab, 
“Karena ibumu seorang wanita!!!
Sang anak kembali terdiam.
Dan sang anak pun kembali bertanya!
“Ayah! Apakah aku lebih kuat dari ayah?”
Dan sang ayah pun kembali menjawab, 
“Iya, kau adalah yang terkuat!”
Sang anak kembali terdiam dan 
sesekali mengerut dahinya.
Dan dia pun kembali melontarkan pertanyaan yang lain.
“Ayah! Apakah aku lebih kuat dari ibu?”
Ayah kembali menjawab, 
“Iya kaulah yang terhebat dan terkuat!”
“Kenapa ayah, kenapa aku yang terkuat?” 
Sang anak pun kembali melontarkan pertanyaan.

Sang ayah pun menjawab dengan perlahan 
dan penuh kelembutan. 
“Karena engkau adalah buah dari cintanya!
Cinta yang dapat membuat semua manusia 
tertunduk dan terdiam.
Cinta yang dapat membuat semua manusia buta, 
tuli serta bisu!

Dan kau adalah segalanya buat kami.
Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami.
Tawamu adalah tawa kami.
Tangismu adalah air mata kami.
Dan cintamu adalah cinta kami.

Dan sang anak pun kembali bertanya!
“Apa itu cinta, Ayah?”
“Apa itu cinta, Ibu?”
Sang ayah dan ibu pun tersenyum!
Dan mereka pun menjawab, 
“Kau, kau adalah cinta kami sayang...”

<>-*-<>

Thursday, September 19, 2019

Puisi Kahlil Gibran tentang Cinta

Aku Bicara Perihal Cinta

Apabila cinta memberi isyarat kepadamu,
ikutilah dia,
walau jalannya sukar dan curam.
Dan pabila sayapnya memelukmu menyerahlah kepadanya.
Walau pedang yang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya
bisa melukaimu.

Dan kalau dia bicara padamu percayalah padanya.
Walau suaranya bisa membuyarkan mimpi-mimpimu
bagai angin utara mengobrak-abrik taman.
Karena sebagaimana cinta memahkotai engkau,
demikian pula dia
kan menyalibmu.
Sebagaimana dia ada untuk pertumbuhanmu,
demikian pula dia ada untuk pemangkasanmu.
Sebagaimana dia mendaki ke puncakmu,
dan membelai mesra ranting-rantingmu nan paling lembut
yang bergetar dalam cahaya matahari.

Demikian pula dia akan menghunjam ke akarmu,
dan mengguncang-guncangnya di dalam cengkeraman mereka
kepada kami.
Laksana ikatan-ikatan dia menghimpun engkau
pada dirinya sendiri.
Dia menebah engkau hingga engkau telanjang.
Dia mengetam engkau demi membebaskan engkau
dari kulit arimu.
Dia menggosok-gosokkan engkau sampai putih bersih.
Dia merembas engkau hingga kau menjadi liar;
dan kemudian dia mengangkat engkau ke api sucinya.
Sehingga engkau bisa menjadi roti suci untuk pesta kudus tuhan.
Semua ini akan ditunaikan padamu oleh sang cinta,
supaya bisa kaupahami rahasia hatimu,
dan di dalam pemahaman dia
menjadi sekeping hati kehidupan.

Namun pabila dalam ketakutanmu,
kau hanya akan mencari kedamaian
dan kenikmatan cinta.
Maka lebih baiklah bagimu,
kalau kau tutupi ketelanjanganmu,
dan menyingkir dari lantai-penebah cinta.
Memasuki dunia tanpa musim tempat kaudapat tertawa,
tapi tak seluruh gelak tawamu,
dan menangis,
tapi tak sehabis semua airmatamu.

Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri,
dan tiada mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri.
Cinta tiada memiliki,
pun tiada ingin dimiliki;
karena cinta telah cukup bagi cinta.

Pabila kau mencintai kau takkan berkata,
tuhan ada di dalam hatiku,
tapi sebaliknya,
“aku berada di dalam hati tuhan”.
Dan jangan mengira kaudapat mengarahkan jalannya cinta,
sebab cinta,
pabila dia menilaimu memang pantas,
mengarahkan jalanmu.

Cinta tak menginginkan yang lain
kecuali memenuhi dirinya.
Namun pabila kau mencintai dan terpaksa
memiliki berbagai keinginan,
biarlah ini menjadi aneka keinginanmu:
meluluhkan diri dan mengalir bagaikan kali,
yang menyanyikan melodinya bagai sang malam.
Mengenali penderitaan dari kelembutan yang begitu jauh.
Merasa dilukai akibat pemahamanmu sendiri tentang cinta;
dan meneteskan darah dengan ikhlas dan gembira.
Terjaga di kala fajar dengan hati seringan awan,
dan mensyukuri hari haru penuh cahaya kasih;
istirahat di kala siang dan merenungkan kegembiraan cinta
yang meluap-luap;
kembali ke rumah di kala senja dengan rasa syukur;
dan lalu tertidur dengan doa bagi kekasih di dalam hatimu,
dan sebuah gita puji pada bibirmu

--<<*>>--


Hapus Air Matamu

Hapus air matamu
Aku tak ingin kau menangis lagi sayang
Yakin kan hati
Diriku tak akan memilih meninggalkanmu
Sekian waktu bersama
Tak bisa menepis kenyataan
Kita berbeda jalani keyakinan
Tapi kau yang kuinginkan dari segalanya

Setiap rinduku hanya memanggilmu
Ku yakin kaupun mengerti
Ku tak ingin menanggalkan hati
Yang telah satu untuk dirimu

Sayangku dengarkan aku
Tak mungkin ku melepasmu
Kan kupertahankan. Kau cintaku
Dan semua air matamu kan berarti di hidupku

Bawalah cintaku bersamamu
Karena ku tetap milikmu selamanya
Dan menikahlah denganku
Bahagialah sampai batas waktu 
Tak terhenti
Ku hanya ingin kau jadi istriku
Untukmu satu cinta dihati

--<<*>>--


Kata Selembar Kertas Seputih Salju

Kata selembar kertas seputih salju,
“Aku tercipta secara murni,
karena itu aku akan tetap murni selamanya.
Lebih baik aku dibakar
dan kembali menjadi abu putih
daripada menderita karena tersentuh kegelapan
atau didekati oleh sesuatu yang kotor.”

Tinta botol mendengar kata kertas itu.
Ia tertawa dalam hatinya yang hitam,
tapi tak berani mendekatinya.
Pensil-pensil beraneka warna pun mendengarnya,
dan mereka pun tak pernah mendekatinya.
Dan selembar kertas yang seputih salju itu
tetap suci dan murni
selamanya -suci dan murni- dan kosong.

--<<*>>--



Ku Ingin Tahu Siapa

Dia yang memikat hati
Entah bagaimana caranya
Aku bisa tergoda

Ku curi-curi waktuku
Tuk mengusik hatinya
Banyak cara kucoba
Demi untuk mendapatkan hatinya

Mungkin kau tahu
Tuk mendapatkannya
Tuhan tolonglah aku
Ingin kumenangkan hatinya tuk kumiliki
Jika mungkin kutahu apa yang bisa menaklukannya
Belah dadaku tuk butikan cintaku
Mungkin Engkau tahu aku cinta dia
Ingin ku menangkan hatinya tuk kumiliki
L
Cinta
Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
Ketika kita menangis?
Ketika kita membayangkan?
Itu karena hal terindah di dunia tidak terlihat

Ketika kita menemukan seseorang yang
keunikannya sejalan dengan kita, kita bergabung
dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan
serupa yang dinamakan cinta.

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan,
seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,
tapi melepaskan bukan akhir dari dunia,
melainkan suatu awal kehidupan baru,
kebahagiaan ada untuk mereka yang tersakiti,
mereka yang telah dan tengah mencari dan
mereka yang telah mencoba. karena merekalah 
yang bisa menghargai betapa pentingnya orang 
yang telah menyentuh kehidupan mereka.

Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu
menitikan air mata dan masih peduli terhadapnya,
adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan
kamu masih menunggunya dengan setia.
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan
kamu masih bisa tersenyum dan berkata
“aku turut berbahagia untukmu “

Apabila cinta tidak bertemu bebaskan dirimu,
biarkan hatimu kembali ke alam bebas lagi.
kau mungkin menyadari, bahwa kamu menemukan
cinta dan kehilangannya, 
tapi ketika cinta itu mati
kamu tidak perlu mati bersama cinta itu.

Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu
mendapatkan keinginannya, 
melainkan mereka yang tetap bangkit ketika mereka jatuh, 
entah bagaimana dalam perjalanan kehidupan.
kamu belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri
dan menyadari bahwa penyesalan tidak
seharusnya ada, cintamu akan tetap di hatinya
sebagai penghargaan abadi atas pilihan-pilihan hidup
yang telah kau buat.

Teman sejati, 
mengerti ketika kamu berkata “aku lupa...”
menunggu selamanya ketika kamu berkata “tunggu sebentar”
tetap tinggal ketika kamu berkata “tinggalkan aku sendiri”
membuka pintu meski kamu belum mengetuk dan
belum berkata “bolehkah saya masuk?”
mencintai juga bukanlah bagaimana kamu
melupakan dia bila ia berbuat kesalahan,
melainkan bagaimana kamu memaafkan.

Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan,
melainkan bagaimana kamu mengerti.
bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa
yang kamu rasa,
bukanlah bagaimana kamu melepaskan melainkan
bagaimana kamu bertahan.

Mungkin akan tiba saatnya di mana kamu harus
berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang
itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita
menyadari bahwa orang iu akan lebih berbahagia
apabila kita melepaskannya.

Kadangkala, 
orang yang paling mencintaimu 
adalah orang yang tak pernah menyatakan cinta kepadamu, 
karena takut kau berpaling dan memberi jarak, 
dan bila suatu saat pergi, 
kau akan menyadari bahwa dia 
adalah cinta yang tak kau sadari

--<<*>>--


Cinta (I)

Lalu berkatalah Almitra, 
bicaralah pada kami perihal Cinta.

Dan dia mengangkat kepalanya dan memandang 
ke arah kumpulan manusia itu, 
dan keheningan menguasai mereka. 
Dan dengan suara lantang dia berkata:
Pabila cinta menggamitmu, ikutlah ia
Walaupun jalan-jalannya sukar dan curam
Pabila ia mengepakkan sayapnya,
Engkau serahkanlah dirimu kepadanya
Walaupun pedang yang tersisip pada sayapnya
akan melukaimu.

Pabila ia berkata-kata
Engkau percayalah kepadanya
walaupun suaranya akan menghancurkan mimpimu
seperti angin utara yang memusnahkan taman-taman
karena sekalipun cinta memahkotai kamu
Ia juga akan mengorbankan kamu
walaupun ia menyuburkan dahan-dahanmu
ia juga akan mematahkan ranting-rantingmu
walaupun ia memanjat dahanmu yang tinggi
dan mengusap ranting-rantingmu yang gementar
dalam remang cahaya matahari ia juga turun ke akar-akarmu
dan menggoncangkannya dari perut bumi

Seperti seberkas jagung
ia akan mengumpulmu untuk dirinya
membantingmu sehingga engkau telanjang
mengayakmu sehingga terpisah kamu dari kulitmu
mengisarmu sehingga engkau menjadi putih bersih
mengulimu agar kamu mudah dibentuk
dan selepas itu membakarmu di atas bara api
agar kamu menjadi sebuku roti yang diberkati
untuk hidangan kenduri Tuhanmu yang suci
Semua ini akan cinta lakukan kepadamu
supaya engkau memahami rahasia hatinya
dan dengan itu menjadi wangi-wangian kehidupan
tetapi seandainya di dalam ketakutanmu
engkau hanya mencari kedamaian dan nikmat cinta
maka lebih baik engkau membalut dirimu
yang telanjang itu
dan beredarlah dari laman cinta yang penuh gelora
ke dunia gersang yang tidak bermusim
di sana engkau akan tertawa tetapi bukan tawamu
dan engkau akan menangis
tetapi bukan dengan air matamu

Cinta tidak memberikan apa-apa melainkan dirinya
dan tidak mengambil apa-apa melainkan dari dirinya
cinta tidak mengawal siapapun
dan cinta tidak boleh dikawal siapapun
karena cinta lengkap dengan sendirinya

Dan pabila engkau bercinta
engkau tidak seharusnya berkata
“kejadian adalah hatiku, 
“sebaliknya berkatalah:
“aku adalah kejadian”

Dan janganlah engkau berpikir
engkau boleh menentukan arus cinta
karena seandainya cinta memberkatimu
ia akan menentukan arah perjalananmu

Cinta tiada nafsu melainkan dirinya
tetapi seandainya kamu bercinta
dan ada nafsu pada cintamu itu
maka biarlah yang berikut ini menjadi nafsumu;
menjadi air batu yang cair
membentuk anak-anak sungai
yang menyanyikan melodi cinta
pada malam yang gelap gelita
untuk mengenal betapa pedihnya kemesraan
untuk merasa luka karena engkau kini mengenali cinta
dan rela serta gembira melihat darah dari lukanya
untuk bangun pada waktu fajar dengan hati yang lega
dan bersyukur untuk satu hari lagi yang terisi cinta
untuk beristirahat ketika matahari remang
untuk mengingati kemanisan dalam tidurmu berdoalah 
untuk kekasihmu
yang bersemadi di dalam hatimu
dengan lagu syukur pada bibirmu

--<<*>>--


Cinta (II)

Mereka berkata tentang serigala dan tikus
Minum di sungai yang sama
Di mana singa melepas dahaga

Mereka berkata tentang elang dan hering
Menghujam paruhnya ke dalam bangkai yang sama
Dan berdamai –di antara satu sama lain,
Dalam kehadiran bangkai-bangkai mati itu
Oh... Cinta, yang tangan lembutnya
mengekang keinginanku
Meluapkan rasa lapar dan dahaga
akan maruah dan kebanggaan,
Jangan biarkan nafsu kuat terus menggangguku
Memakan roti dan meminum anggur
Menggoda diriku yang lemah ini

Biarkan rasa lapar menggigitku,
Biarkan rasa haus membakarku,
Biarkan aku mati dan binasa,
Sebelum kuangkat tanganku
Untuk cangkir yang tidak kau isi,
Dan mangkuk yang tidak kau berkati

--<<*>>--


Cinta (III)

Kemarin aku berdiri berdekatan pintu gerbang 
sebuah rumah ibadat dan bertanya kepada manusia 
yang lalu-lalang di situ tentang misteri dan kesucian cinta.
Seorang lelaki setengah baya menghampiri, 
tubuhnya rapuh wajahnya gelap. 
Sambil mengeluh dia berkata, 
“Cinta telah membuat suatu kekuatan menjadi lemah, 
aku mewarisinya dari Manusia Pertama.”

Seorang pemuda dengan tubuh kuat dan besar menghampiri. 
Dengan suara bagai bernyanyi dia berkata, 
“Cinta adalah sebuah ketetapan hati 
yang ditumbuhkan dariku, 
yang rnenghubungkan masa sekarang 
dengan generasi masa lalu dan generasi yang akan datang.’

Seorang wanita dengan wajah melankolis 
menghampiri dan sambil mendesah, dia berkata, 
‘Cinta adalah racun pembunuh, ular hitam berbisa 
yang menderita di neraka, terbang melayang dan 
berputar-putar menembus langit sampai ia jatuh tertutup embun, 
ia hanya akan diminum oleh roh-roh yang haus. 
Kemudian mereka akan mabuk untuk beberapa saat, 
diam selama satu tahun dan mati untuk selamanya.’

Seorang gadis dengan pipi kemerahan menghampiri 
dan dengan tersenyum dia berkata, 
‘Cinta itu laksana air pancuran yang
 digunakan roh pengantin sebagai siraman ke dalam roh 
orang-orang yang kuat membuat mereka bangkit dalam doa 
di antara bintang-bintang di malam hari
dan senandung pujian di depan matahari di siang hari.’

Setelah itu seorang lelaki menghampiri. 
Bajunya hitam, janggutnya panjang dengan dahi berkerut, 
dia berkata, ‘Cinta adalah ketidakpedulian yang buta. 
la bermula dari ujung masa muda 
dan berakhir pada pangkal masa muda.’

Seorang lelaki tampan dengan wajah bersinar 
dan dengan bahagia berkata, ‘Cinta adalah pengetahuan 
syurgawi yang menyalakan mata kita. Ia menunjukkan 
segala sesuatu kepada kita 
seperti para dewa melihatnya.’

Seorang bermata buta menghampiri, 
sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke tanah 
dan dia kemudian berkata sambil menangis, 
‘Cinta adalah kabut tebal 
yang menyelubungi gambaran sesuatu darinya atau 
yang membuatnya hanya melihat hantu dari nafsunya 
yang berkelanadi antara batu karang, 
tuli terhadap suara-suara  dari tangisnya sendiri 
yang bergema di lembah-lembah.’

Seorang pemuda, dengan membawa sebuah gitar 
menghampiri dan menyanyi, ‘Cinta adalah cahaya ghaib 
yang bersinar dari kedalaman kehidupan 
yang peka dan mencerahkan segala yang ada di sekitarnya. 
Engkau bisa melihat dunia bagai sebuah 
arak-arakan yang berjalan melewati padang rumput hijau. 
Kehidupan adalah bagai sebuah mimpi indah yang diangkat 
dari kesadaran dan kesadaran.’

Seorang lelaki dengan badan bongkok 
dan kakinya bengkok bagai potongan-potongan kain menghampiri. 
Dengan suara bergetar, dia berkata, 
‘Cinta adalah istirahat panjang bagi raga di dalam 
kesunyian makam, kedamaian bagi jiwa dalam 
kedalaman keabadian.’

Seorang anak kecil berumur lima tahun menghampiri
dan sambil tertawa dia berkata, 
‘Cinta adalah ayahku, cinta adalah ibuku. 
Hanya ayah dan ibuku yang mengerti tentang cinta.’

Waktu terus berjalan. 
Manusia terus-menerus melewati rumah ibadat. 
Masing-masing mempunyai pandangannya tersendiri 
tentang cinta. 
Semua menyatakan harapan-harapannya 
dan mengungkapkan misteri-misteri kehidupannya.

--<<*>>--


Cinta Setubuh Padas

Cinta setubuh padas!
Bergelang waktu menggoda
sesal anak rahim di kandung celaka.
Mengunci tabir di buih-buih selaksa doa.
Mungkin karunia itu berakhir patah, atau
sekedar mengusap lempeng cumbu
bertahta angin! Dan cinta kian
menitik air mata di seanyam arang,
mantra hati menyusut di susuk semangat.

“Kembalikanlah amarahku; oh, cermin sangga!”

Lembut suara angannya mengelus padas,
agar memeluk kerat penguak duri
percintaan bersanding ajal.
Keadilan Cinta
ketika hati melangkah, ketika hasrat menggema
ketika rasa bergetar, saat itu daya tak kuasa
menemukan kekasih hati

Dimanakah posisi cinta
dikala hati menginginkannya
apakah cinta hanya sebuah pelampiasan
dari hasrat diri
dimanakah rasa dikala posisi cinta bergeser

Cinta,
adakah cinta untukku
apakah cinta bisa berbuat adil
Entahlah... dayaku tak kuasa lagi 
untuk menemukan cinta

--<<*>>--

Tuesday, September 17, 2019

Puisi Kahlil Gibran tentang Kehidupan


Kehidupan

Manusia bergumul
untuk menemukan kehidupan
di luar dirinya.
Tidak sadar bahwa kehidupan
yang dicari-carinya ada
di dalam dirinya sendiri.
Kehidupan adalah ibarat wanita yang mandi
di dalam air mata
kekasih-kekasihnya,
dan mengurapi dirinya dengan darah
para korbannya.

Pakaiannya adalah hari-hari yang putih,
yang bergaris kegelapan malam.
Ia jadikan hati manusia kekasihnya,
tetapi tidak mau menikahinya.

Kehidupan adalah penghibur yang merayu kita
dengan kecantikannya.
Tetapi ia yang mengenal tipu muslihatnya akan lari
dari hiburannya.

--<<~>>--

Betapa sering aku berbicara
dengan para professor Harvard,
tetapi merasa seolah-olah berbicara
dengan professor Al-Azhar!
Betapa sering aku bercakap-cakap
dengan wanita Boston dan
mendengar mereka mengucapkan hal-hal
yang dulu suka kudengar
dari wanita-wanita tua yang sederhana
dan tak tahu apa-apa di Syria

Kehidupan adalah satu, Mikhail.

Ia mewujudkan dirinya
di desa-desa di Lebanon,
sama seperti di Boston, New York,
dan San Fransisco.



--<<~>>--


7 Alasan Mencela Diriku

Tujuh kali aku pernah mencela jiwaku,
Pertama kali ketika aku melihatnya lemah,
padahal seharusnya ia bisa kuat.

Kedua kali ketika melihatnya
berjalan terjingkat-jingkat
di hadapan orang yang lumpuh

Ketiga kali ketika berhadapan
dengan pilihan yang sulit dan mudah,
ia memilih yang mudah

Keempat kalinya,
ketika ia melakukan kesalahan
dan mencoba menghibur diri
dengan mengatakan bahwa semua orang
juga melakukan kesalahan

Kelima kali,
ia menghindar karena takut,
lalu mengatakannya sebagai sabar

Keenam kali,
ketika ia mengejek kepada seraut wajah buruk
padahal ia tahu,
bahwa wajah itu adalah salah satu topeng
yang sering ia pakai

Dan ketujuh,
ketika ia menyanyikan lagu pujian
dan menganggap itu sebagai sesuatu
yang bermanfaat



--<<~>>--


Persahabatan

Dan seorang remaja berkata,
Bicaralah pada kami tentang
Persahabatan.

Dan dia menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih
dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Karena kau menghampirinya
saat hati lupa dan mencarinya
saat jiwa ingin kedamaian.

Bila dia berbicara, mengungkapkan pikirannya,
kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri,
pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,
hatimu berhenti dari mendengar hatinya;
karena tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan,
segala pikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan
bersama dan berbagi dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat,
tiadalah kau berdukacita;
Karena yang paling kau kasihi dalam dirinya,
mungkin kau
nampak lebih jelas dalam ketiadaannya,
bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki,
nampak lebih agung
daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali
saling memperkaya roh kejiwaan.
Karena cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya,
bukanlah cinta, tetapi sebuah jala yang ditebarkan:
hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu,
biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika kau senantiasa mencarinya,
untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu,
bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan,
biarkanlah ada tawa ria
dan berbagi kegembiraan..
Karena dalam titisan kecil embun pagi,
hati manusia menemui fajar
 dan gairah segar kehidupan.



--<<~>>--


Nyanyian Sukma

Di dasar relung jiwaku bergema nyanyian tanpa kata;
sebuah lagu yang bernafas di dalam benih hatiku,
Yang tiada dicairkan oleh tinta di atas lembar kulit;
ia meneguk rasa kasihku dalam jubah yang tipis kainnya,
dan mengalirkan sayang,
namun bukan menyentuh bibirku.
Betapa dapat aku mendesahkannya?
Aku bimbang dia mungkin berbaur dengan kerajaan fana
kepada siapa aku akan menyanyikannya?
Dia tersimpan dalam relung sukmaku
karena aku risau, dia akan terhempas
di telinga pendengaran yang keras.
Pabila kutatap penglihatan batinku

Nampak di dalamnya bayangan dari bayangannya,
dan pabila kusentuh ujung jemariku
terasa getaran kehadirannya.
Perilaku tanganku saksi bisu kehadirannya,
bagai danau tenang yang memantulkan cahaya
bintang-bintang bergemerlapan.

Air mataku menandai sendu
bagai titik-titik embun syahdu
yang membongkarkan rahasia mawar layu.
Lagu itu digubah oleh renungan,
dan dikumandangkan oleh kesunyian,
dan disingkiri oleh kebisingan, dan dilipat oleh kebenaran,
dan diulang-ulang oleh mimpi dan bayangan,
dan difahami oleh cinta,
dan disembunyikan oleh kesadaran siang
dan dinyanyikan oleh sukma malam.
Lagu itu lagu kasih-sayang,
gerangan ‘cain’ atau ‘esau’ manakah yang mampu
membawakannya berkumandang?
Nyanyian itu lebih semerbak wangi daripada melati:
suara manakah yang dapat menangkapnya?
Kidung itu tersembunyi bagai rahasia perawan suci,
getar nada mana yang mampu menggoyahnya?
Siapa berani menyatukan debur ombak samudra
dengan kicau bening burung malam?
Siapa yang berani membandingkan deru alam,
dengan desah bayi yang nyenyak di buaian?
Siapa berani memecah sunyi
dan lantang menuturkan bisikan sanubari
yang hanya terungkap oleh hati?
Insan mana yang berani melagukan kidung suci Tuhan?



--<<~>>--


Prosa (V)

Aku akan melakukan segala apa yang telah engkau ucapkan tadi
Dan aku akan menjadikan jiwaku
sebagai sebuah kelambu yang
menyelubungi jiwamu.
Hatiku akan menjadi tempat tinggal keanggunanmu
serta dadaku akan menjadi kubur bagi penderitaanmu.
Aku akan selalu mencintaimu… sebagaimana padang rumput
yang luas mencintai musim bunga.

Aku akan hidup di dalam dirimu
laksana bunga-bunga yang hidup
oleh panas matahari.
Aku akan menyanyikan namamu seperti lembah
menyanyikan gema lonceng di desa
Aku akan mendengar bahasa jiwamu seperti pantai
mendengarkan kisah-kisah gelombang.
Aku akan mengingatmu seperti perantau asing
yang mengenang tanah air tercintanya,
Sebagaimana orang lapar mengingati pesta jamuan makan,
Seperti raja yang turun takhta mengingati masa-masa
kegemilangannya,
Dan seperti seorang tahanan mengingati
masa-masa kesenangan dan kebebasan.
Aku akan mengingatmu sebagaimana seorang petani
yang mengingat bekas-bekas gandum
di lantai tempat simpanannya,
juga seperti gembala mengingati padang rumput yang luas dan
sungai yang segar airnya.”



--<<~>>--


Pikiran dan Samadi

Hidup menjemput dan melantunkan kita
dari satu tempat ke tempat yang lain.
Nasib memindahkan kita dari satu tahap ke tahap yang lain.
Dan kita yang diburu oleh keduanya,
hanya mendengar suara yang mengerikan,
dan hanya melihat susuk yang menghalangi
dan merintangi jalan kita.

Keindahan menghadirkan dirinya dengan duduk di atas
singgasana keagungan; tapi kami mendekatinya atas dorongan Nafsu; merenggut mahkota kesuciannya,
dan mengotori busananya dengan tindak laku durhaka.

Cinta berlalu di depan kita,
berjubahkan kelembutan; tapi kita lari ketakutan,
atau bersembunyi dalam kegelapan,
atau ada pula yang malahan mengikutinya,
untuk berbuat kejahatan atas namanya.
Meskipun orang yang paling bijaksana terbongkok
karena memikul beban Cinta,
tapi sebenarnya beban itu seiringan bayu pawana Lebanon
yang berpuput riang.

Kebebasan mengundang kita pada mejanya
agar kita menikmati makanan lezat dan anggurnya;
tapi bila kita telah duduk menghadapinya,
kita pun makan dengan lahap dan rakus.

Tangan Alam menyambut hangat kedatangan kita,
dan menawarkan pula agar kita menikmati keindahannya;
tapi kita takut akan keheningannya,
lalu bergegas lari ke kota yang ramai,
berhimpit-himpitan seperti kawanan kambing
yang lari ketakutan dari serigala garang.

Kebenaran memanggil-manggil kita
di antara tawa anak-anak atau ciuman kekasih,
tapi kita menutup pintu keramahan baginya,
dan menghadapinya bagaikan musuh.

Hati manusia menyeru pertolongan;
jiwa manusia memohon pembebasan;
tapi kita tidak mendengar teriakan mereka,
karena kita tidak membuka telinga dan berniat memahaminya.
Namun orang yang mendengar dan memahaminya kita sebut gila
lalu kita tinggalkan.
Malampun berlalu, hidup kita lelah dan kurang waspada,
sedang hari pun memberi salam dan merangkul kita.
Tapi di siang dan malam hari, kita senantiasa ketakutan.

Kita amat terikat pada bumi, sedangkan gerbang Tuhan terbuka lebar. Kita menginjak-injak roti Kehidupan,
sedangkan kelaparan memamah hati kita.
Sungguh betapa budiman Sang Hidup terhadap Manusia,
namun betapa jauh Manusia meninggalkan Sang Hidup.



--<<~>>--


Dua Keinginan

Di keheningan malam, Sang Maut turun
atas perintahTuhan menuju ke bumi.
Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati
seluruh penghuni dengan tatapan matanya.
Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang
dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena
di dalam kekuasaan Sang Lelap.

Ketika rembulan tersungkur di kaki langit,
dan kota itu berubah warna menjadi hitam kepekatan,
Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di celah-celah
kediaman –berhati-hati agar tidak menyentuh apa pun–
sehingga tiba di sebuah istana.
Ia masuk melalui pagar besi berpaku tanpa satupun halangan
dan berdiri di sisi sebuah ranjang ,
dan ketika ia menyentuh dahi si lena,
lelaki itu membuka kelopak matanya
dan memandang dengan penuh ketakutan.

Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya,
dia menjerit dengan suara ketakutan bercampur aduk kemarahan,
“Pergilah kau dariku, mimpi yang mengerikan!
Pergilah engkau makhluk jahat!
Siapakah engkau ini?
Dan bagaimana mungkin kau memasuki istana ini?
Apa yang kau inginkan?
Tinggalkan rumah ini dengan segera!
Ingatlah, akulah tuan rumah ini.
Enyahlah kau, kalau tidak,
kupanggil para hamba suruhanku dan para pengawalku
untuk mencincangmu menjadi kepingan!”

Kemudian Maut berkata dengan suara lembut,
tapi sangat menakutkan,
“Akulah kematian,
berdiri dan tunduklah padaku.”
Dan si lelaki itu menjawab,
“Apa yang kau inginkan dariku sekarang,
dan benda apa yang kau cari?
Kenapa kau datang ketika urusanku belum selesai?
Apa yang kau inginkan dari orang kaya berkuasa seperti aku?
Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia!
Aku ngeri melihat taring-taringmu yang berdarah
dan wajahmu yang bengis,
dan mataku sakit menatap sayap-sayapmu
yang menjijikkan
dan tubuhmu yang meloyakan.”
Namun setelah sadar,
dia menambah dengan ketakutan,
“Tidak, tidak, Maut yang pengampun,
jangan pedulikan apa yang telah kukatakan,
karena rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata
yang sesungguhnya terlarang.
Maka ambillah onggokan emasku sesukamu
atau nyawa salah seorang dari hamba-hambaku,
dan tinggalkanlah diriku…
Aku masih mempunyai urusan kehidupan yang belum selesai
dan berhutang emas dengan orang.
Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, permintaanku...
jangan ambil nyawaku…
Ambillah olehmu barang yang kau inginkan
dan tinggalkanlah daku.
Aku punya perempuan simpanan
yang luar biasa cantiknya untuk kau pilih, Kematian.
Dengarlah lagi:
Aku punya seorang putera tunggal yang kusayangi,
dialah sumber kegembiraan hidupku.
Kutawarkan dia juga sebagai pengganti,
tapi nyawaku jangan kau cabut
dan tinggalkan diriku sendirian.”

Sang Maut itu pun mengeluh,
“Engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak sadar diri.”
Kemudian Maut mengambil tangan orang hina itu,
mencabut nyawanya,
dan memberikannya kepada para malaikat di langit
untuk menghukumnya.
Dan Maut berjalan perlahan di antara
setinggan orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah
paling miskin yang ia temukan.
Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda
dengan kelelapan yang damai.
Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga.
Dan ketika melihat Sang Maut berdiri di sampingnya,
ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan,
“Aku di sini, wahai Sang Maut yang cantik.
Sambutlah rohku, karena kaulah harapan impianku.
Peluklah diriku, kekasih jiwaku,
karena kau sangat penyayang dan tak kan
meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi,
kaulah tangan kanan kebenaran.
Bawalah daku pada Ilahi. Jangan tinggalkan daku di sini.”

“Aku telah memanggil dan merayumu berulang kali,
namun kau tak jua datang.
Tapi kini kau telah mendengar suaraku,
karena itu jangan kecewakan cintaku dengan menjauhi diriku.
Peluklah rohku,
Sang Maut yang dikasihi.”

Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya
ke atas bibir yang bergetar itu,
mencabut nyawanya,
dan menaruh
roh itu di bawah perlindungan sayap-sayapnya.

Ketika ia naik kembali ke langit,
Maut menoleh ke belakang —
 ke dunia – dan dalam bisikan amaran ia berkata,
“Hanya mereka di dunia yang mencari Keabadianlah
yang sampai kepada Keabadian itu.”



--<<~>>--


Peradaban

Kesengsaraan bangsa-bangsa Asia
adalah kesengsaraan dunia juga.
Dan yang engkau sebut peradaban di Barat hanyalah satu lagi
makam hantu-hantu penyesatan yang tragis.



--<<~>>--

Penciptaan dan penemuan hanyalah hiburan
dan kesenangan bagi tubuh
ketika ia letih dan lesu.

Upaya menaklukkan jarak
serta menaklukkan lautan
hanyalah buah palsu yang tidak memuaskan jiwa,
ataupun memupuk hati, atau mengangkat roh,
sebab jauh dari alam.

Dan struktur-struktur serta teori-teori
yang disebut manusia sebagai pengetahuan
dan kesenian hanyalah belenggu dan rantai emas
yang diseret manusia, dan manusia bersukacita
dengan kemilaunya serta dentingan suaranya.

Semua itu adalah kurungan yang kuat,
yang jerujinya telah dibuat oleh manusia
berabad-abad yang silam,
tidak sadar bahwa ia sedang
membangun dari sebelah dalam,
dan bahwa ia akan segera menjadi tawanannya sendiri
selamanya.



--<<~>>--


Kehidupan di Desa

Kita yang hidup di tengah-tengah gemerlap kota,
tidak tahu apa-apa tentang kehidupan orang-orang desa
di pegunungan.

Kita tersapu ke dalam keberadaan perkotaan yang sekarang,
hingga kita lupa irama kehidupan di desa yang sederhana,
yang penuh kedamaian,
yang menuai di musim gugur,
beristirahat di musim dingin,
meniru alam dalam segala siklusnya.
Kita lebih kaya daripada orang desa dalam perak dan emas,
tetapi mereka lebih kaya dalam roh.
Yang kita taburkan tidak kita tuai.
Mereka menuai apa yang mereka taburkan.
Kita adalah budak keuntungan,
dan mereka adalah anak-anak kecukupan diri.
Kekeringan kita akan cawan kehidupan bercampur
dengan kepahitan serta keputus-asaan,
ketakutan dan keletihan,

tetapi mereka minum manisnya kepenuhan kehidupan.



--<<~>>--


Kota

Wahai penduduk kota yang bising,
yang hidup dalam kegelapan,
yang bergegas menuju kenelangsaan,
yang mengkhotbahkan kepalsuan,
dan berbicara dengan kebodohan....
Sampai kapankah engkau tetap tidak tahu apa-apa?
Sampai kapankah engkau hidup dalam kotornya kehidupan
dan terus meninggalkan kebun-kebunnya?

Mengapakah engkau mengenakan jubahmu
yang compang-camping, berupa kepicikan,
padahal alam telah merancang pakaian
dari sutera yang indah bagimu?

Pelita hikmat sudah meredup,
tibalah saat untuk mengisi ulang minyaknya.
Rumah keberuntungan sejati mulai dihancurkan.
Tibalah saatnya untuk membangun kembali
dan menjaganya.
Pencuri-pencuri berupa ketidaktahuan
telah mencuri harta berupa kedamaianmu.
Tibalah saatnya untuk merebutnya kembali.



--<<~>>--


Puisi Kahlil Gibran tentang Keluarga

Anak Dan seorang perempuan yang menggendong bayi  dalam dekapan dadanya berkata,  Bicaralah pada kami perihal Anak. Dan dia berkata: Anak-an...