Monday, September 23, 2019

Puisi Kahlil Gibran tentang Alam


Suara Alam

Ketika burung bernyanyi, 
apakah mereka memanggil bunga-bunga 
di ladang, atau apakah mereka berbicara kepada pepohonan, 
atau apakah mereka menggemakan 
gumaman sungai-sungai?

Sebab manusia dengan pengertiannya tidak dapat 
mengetahui apa yang dikatakan burung,
atau apa yang digumamkan sungai, 
atau apa yang dibisikkan gelombang 
ketika mereka menyentuh pantai 
dengan perlahan-lahan serta lembut.

Manusia dengan pengertiannya 
tidak dapat mengetahui apa yang dikatakan hujan 
ketika jatuh di atas dedaunan pepohonan 
atau ketika menyentuh jendela.

Ia tidak dapat mengetahui apa yang dikatakan 
hembusan angin kepada bunga-bunga di ladang.

Tetapi hati manusia dapat merasakan serta memahami 
makna suara-suara ini yang memainkan perasaannya.

Hikmat kekal seringkali berbicara kepadanya 
dengan bahasa yang misterius, 
jiwa dan alam bercakap bersama-sama. 
Sementara manusia berdiri tak dapat berkata apa-apa 
serta bingung.

Tetapi bukankah manusia telah menangis 
mendengar suara-suara ini? 
Dan bukankah air matanya itu pengertian yang fasih? 

<<*>>


Antara Pagi dan Malam Hari

Tenanglah hatiku, karena langit tak juga mendengar
Tenanglah, karena bumi dibebani dengan ratapan kesedihan.
Dia takkan melahirkan melodi dan nyanyianmu.
Tenanglah, karena roh-roh malam tak menghiraukan
bisikan rahasiamu, dan bayang-bayang tak berhenti
di hadapan mimpi-mimpi.
Tenanglah, hatiku. Tenanglah hingga fajar tiba,
karena dia yang menanti pagi dengan sabar
akan menyambut pagi dengan kekuatan.
Dia yang mencintai cahaya, dicintai cahaya.
Tenanglah hatiku, dan dengarkan ucapanku.

Dalam mimpi aku melihat seekor murai bernyanyi 
saat dia terbang di atas kawah gunung berapi yang meletus.
Kulihat sekuntum bunga Lili menyembulkan kelopaknya 
di balik salju.
Kulihat seorang bidadari menari-menari 
di antara batu-batu kubur.
Kulihat seorang anak tertawa sambil bermain 
dengan tengkorak-tengkorak.
Kulihat semua makhluk ini dalam sebuah mimpi. 
Ketika aku terjaga dan memandang ke sekelilingku, 
kulihat gunung berapi memuntahkan nyala api, 
tapi tak kudengar murai bernyanyi, 
juga tak kulihat dia terbang.
Kulihat langit menaburkan salju 
di atas padang dan lembah, 
dilapisi warna putih mayat dari bunga lili yang membeku.
Kulihat kuburan-kuburan, berderet-deret, 
tegak di hadapan zaman-zaman yang tenang. 
Tapi tak satu pun kulihat di sana 
yang bergoyang dalam tarian, 
juga tidak yang tertunduk dalam doa.
Saat terjaga, kulihat kesedihan dan kepedihan; 
ke manakah perginya kegembiraan dan kesenangan impian?
Mengapa keindahan mimpi lenyap, dan bagaimana 
gambaran-gambarannya menghilang? 
Bagaimana mungkin jiwa tertahan 
sampai sang tidur membawa kembali roh-roh 
dari hasrat dan harapannya?

Dengarlah hatiku, dan dengarlah ucapanku.
Semalam jiwaku adalah sebatang pohon yang kukuh dan tua,
menghunjam akar-akarnya ke dasar bumi
dan cabang-cabangnya mencekau ke arah yang tak terhingga.
Jiwaku berbunga di musim bunga,
memikul buah pada musim panas. 

Pada musim gugur kukumpulkan buahnya 
di mangkuk perak dan kuletakkan di tengah jalan. 
Orang-orang yang lalu lalang  mengambil dan memakannya, 
serta meneruskan perjalanan mereka.

Kala musim gugur berlalu dan gita pujinya
bertukar menjadi lagu kematian dan ratapan,
kudapati semua orang telah meninggalkan
diriku kecuali satu-satunya buah di talam perak.
Kuambil ia dan memakannya,
dan merasakan pahitnya bagai kayu gaharu,
masam bak anggur hijau.
Aku berbicara dalam hati,
“Bencana bagiku, karena telah kutempatkan sebentuk laknat
di dalam mulut orang-orang itu,
dan permusuhan dalam perutnya.
“Apa yang telah kaulakukan, jiwaku, dengan kemanisan
akar-akarmu itu yang telah meresap dari usus besar bumi,
dengan wangian daun-daunmu yang telah meneguk
cahaya matahari?”
Lalu kucabut pohon jiwaku yang kukuh dan tua.
Kucabut akarnya dari tanah liat yang di dalamnya dia telah
bertunas dan tumbuh dengan subur.
Kucabut akar dari
masa lampaunya, menanggalkan kenangan
seribu musim bunga dan seribu musim gugur.
Dan kutanam sekali lagi pohon jiwaku di tempat lain.
Kutanam dia di padang yang tempatnya jauh
dari jalan-jalan waktu.
Kulewatkan malam dengan terjaga di sisinya, sambil berkata,
“Mengamati bersama malam yang membawa kita mendekati
kerlipan bintang.”
Aku memberinya minum dengan darah dan airmataku,
sambil berkata,
“Terdapat sebentuk keharuman dalam darah,
dan dalam air mata sebentuk kemanisan.”
Tatkala musim bunga tiba, jiwaku berbunga sekali lagi.

Pada musim panas jiwaku menyandang buah. 
Tatkala musim gugur tiba, kukumpulkan buah-buahnya 
yang matang di talam emas dan kuletakkan di tengah jalan. 
Orang-orang melintas, satu demi satu atau dalam 
kelompok-kelompok, tapi tak satu pun mengulurkan tangannya untuk mengambil bagiannya.
Lalu kuambil sebuah dan memakannya, 
merasakan manisnya bagai madu pilihan, 
lezat seperti musim bunga dari syurga, 
sangat menyenangkan laksana anggur Babylon, 
wangi bak wangi-wangian dari melati.
Aku menjerit, “Orang-orang tak menginginkan rahmat 
pada mulutnya atau kebenaran dalam usus mereka, 
karena rahmat adalah puteri airmata dan kebenaran 
putera darah!”Lalu aku beralih dan duduk di bawah bayangan pohon sunyi jiwaku di sebuah padang yang tempatnya jauh 
dari jalan waktu.

Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba.
Tenanglah, karena langit menghembus bau amis kematian
dan tak bisa meminum nafasmu.
Dengarkan, hatiku, dan dengarkan aku bicara.
Semalam pikiranku adalah kapal yang terombang-ambing
oleh gelombang laut dan digerakkan oleh angin
dari pantai ke pantai
Kapal pikiranku kosong kecuali untuk tujuh cawan yang dilimpahi dengan warna-warna, gemilang berwarna-warni.
Sang waktu datang kala aku merasa jemu terapung-apungan di atas permukaan laut dan berkata,
“Aku akan kembali ke kapal kosong pikiranku
menuju pelabuhan kota tempat aku dilahirkan.”
Tatkala kerjaku selesai, kapal pikiranku
Aku mulai mengecat sisi-sisi kapalku dengan warna-warni -
kuning matahari terbenam,
hijau musim bunga baru,
biru kubah langit,
merah senjakala yang menjadi kecil.
Pada layar dan kemudinya
kuukirkan susuk-susuk menakjubkan,
menyenangkan mata dan menyenangkan penglihatan.
Tatkala kerjaku selesai,
kapal pikiranku laksana pandangan luas seorang nabi,
berputar dalam ketidakterbatasan laut dan langit.
Kumasuki pelabuhan kotaku,
dan orang muncul menemuiku dengan pujian
dan rasa terima kasih.
Mereka membawaku ke dalam kota, memukul gendang
dan meniup seruling. Ini mereka lakukan karena bagian luar kapalku
yang dihias dengan cemerlang, tapi tak seorang pun masuk
ke dalam kapal pikiranku.
Tak seorang pun bertanya apakah yang kubawa dari seberang lautan
Tak seorang pun tahu kenapa aku kembali
dengan kapal kosongku ke pelabuhan.
Lalu kepada diriku sendiri, aku berkata,
“Aku telah menyesatkan orang-orang,
dan dengan tujuh cawan warna telah kudustai mata mereka”
Setelah setahun aku menaiki kapal pikiranku
dan kulayari di laut untuk kedua kalinya.
Aku berlayar menuju pulau-pulau timur,
dan mengisi kapalku dengan dupa dan kemenyan,
pohon gaharu dan kayu cendana.
Aku berlayar menuju pulau-pulau barat,
dan membawa bijih emas dan gading, batu merah delima
dan zamrud, dan sulaman serta pakaian warna merah lembayung.
Dari pulau-pulau selatan aku kembali
dengan rantai dan pedang tajam, tombak-tombak panjang,
serta beraneka jenis senjata.
Aku mengisi kapal pikiranku dengan harta benda dan
barang-barang hasil bumi dan kembali ke pelabuhan kotaku,
sambil berkata, “Orang-orangku pasti akan memujiku,
memang sudah pastinya.
Mereka akan menggendongku ke dalam kota
sambil menyanyi dan meniup trompet”
Tapi ketika aku tiba di pelabuhan,
tak seorangpun keluar menemuiku.
Ketika kumasuki jalan-jalan kota,
tak seorang pun memperhatikan diriku.
Aku berdiri di alun-alun sambil mengutuk pada orang-orang bahwa aku membawa buah dan kekayaan bumi.
Mereka memandangku, mulutnya penuh tawa,
cemoohan pada wajah mereka. Lalu mereka berpaling dariku.
Aku kembali ke pelabuhan, kesal dan bingung.
Tak lama kemudian aku melihat kapalku.
Maka aku melihat perjuangan dan harapan dari perjalananku yang menghalangi perhatianku. Aku menjerit.
Gelombang laut telah mencuri cat dari sisi-sisi kapalku,
tak meninggalkan apa pun kecuali tulang belulang
yang bertaburan. Angin, badai dan terik matahari
telah menghapus lukisan-lukisan dari layar,
memudarkan ia seperti pakaian berwarna kelabu dan usang.
Kukumpulkan barang-barang hasil dan kekayaan bumi
ke dalam sebuah perahu yang terapung di atas permukaan air.
Aku kembali ke orang-orangku, tapi mereka menolak diriku karena mata mereka hanya melihat bagian luar.
Pada saat itu kutinggalkan kapal pikiranku dan
pergi ke kota kematian. Aku duduk di antara kuburan-kuburan
yang bercat kapur, merenungkan rahasia-rahasianya.

Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba.
Tenanglah, meskipun prahara yang mengamuk 
mencerca bisikan-bisikan batinmu, 
dan gua-gua lembah takkan menggemakan bunyi suaramu.
Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba. 
Karena dia yang menantikan 
dengan sabar hingga fajar, pagi hari akan memeluknya 
dengan semangat.

Nun di sana! Fajar merekah, hatiku.
Bicaralah, jika kau mampu bicara!
Itulah arak-arakan sang fajar, hatiku!
Akankah hening malam melumpuhkan kedalaman hatimu
yang menyanyi menyambut fajar?
Lihatlah kawanan merpati dan burung murai melayang di atas lembah. Akankah kengerian malam
menghalangi engkau untuk menduduki sayap bersama mereka?
Para penggembala memandu kawanan dombanya
dari tempat ternak dan kandang.
Akankah roh-roh malam menghalangimu
untuk mengikuti mereka ke padang rumput hijau?
Anak lelaki dan perempuan bergegas menuju kebun anggur.
Kenapa kau tak beranjak dan berjalan bersama mereka?
Bangkitlah, hatiku, bangkit dan berjalan bersama fajar,
karena malam telah berlalu.
Ketakutan malam lenyap bersama mimpi gelapnya.
Bangkitlah, hatiku, dan lantangkan suaramu dalam nyanyian, karena hanya anak-anak kegelapan yang gagal menyatu
ke dalam nyanyian sang fajar.

<<*>>


Batu Kelapa

Dua muda bercermin cahaya,
sesaat terik melepas biasnya di perigi harap
 Jengkal waktu merayap malas, 
bertali dua perempuan paruh nafas luruh di tepi daun kaca:
merayu sepasang batu kelapa, terpukul nyata.
Keajaiban bagai memikat beliung
rasa dua muda itu, dan gegas melambung
paruh demi sepasang batu kelapa;
memundak gersang terka.

Tak lama batu kelapa menanak
santannya di tempurung berekor bulu.
Mengasah dua muda untuk menilik: adanya
kisah batu di kelapa selepas gelap.

<<*>>


Lagu Ombak

Pantai yang perkasa adalah kekasihku,
Dan aku adalah kekasihnya,
Akhirnya kami dipertautkan oleh cinta,
Namun kemudian Bulan menjarakkan aku darinya.
Kupergi padanya dengan cepat
Lalu berpisah dengan berat hati.
Membisikkan selamat tinggal berulang kali.

Aku segera bergerak diam-diam
Dari balik kebiruan cakerawala
Untuk mengayunkan sinar keperakan buihku
Ke pangkuan keemasan pasirnya
Dan kami berpadu dalam adunan terindah.

Aku lepaskan kehausannya
Dan nafasku memenuhi segenap relung hatinya
Dia melembutkan suaraku dan mereda gelora di dada.
Kala fajar tiba, kuucapkan prinsip cinta
di telinganya, dan dia memelukku penuh damba

Di terik siang kunyanyikan dia lagu harapan
Diiringi kecupan-kecupan kasih sayang
Gerakku pantas diwarnai kebimbangan
Sedangkan dia tetap sabar dan tenang.
Dadanya yang bidang meneduhkan kegelisahan
Kala air pasang kami saling memeluk
Kala surut aku berlutut menjamah kakinya
Memanjatkan doa

Seribu sayang, aku selalu berjaga sendiri
Menyusut kekuatanku.
Tetapi aku pemuja cinta,
Dan kebenaran cinta itu sendiri perkasa,
Mungkin kelelahan akan menimpaku,
Namun tiada aku bakal binasa.

<<*>>


Pulau

Kehidupan adalah sebuah pulau di samudera kesepian.
Sebuah pulau yang batu-batu karangnya
adalah pengharapan,
yang pepohonannya adalah impian,
yang bunga-bungaannya adalah kesendirian,
dan yang sungai-sungainya adalah dahaga.

Kehidupanmu, saudara-saudaraku, 
adalah sebuah pulau yang terpisah dari semua pulau 
serta wilayah lainnya. Seberapa banyakpun kapal yang berangkat dari pantaimu 
menuju iklim lain, 
seberapa banyakpun armada yang berlabuh di pantaimu, 
engkau tetaplah pulau yang tersendiri, 
menderita kesepian, dan mendambakan kebahagiaan 
Engkau tidak dikenal oleh sesamamu manusia, 
dan jauh dari simpati serta pengertian mereka.

<<*>>


Mimpi

Kala malam datang dan rasa kantuk 
membentangkan selimutnya di wajah bumi, 
aku bangun dan berjalan ke laut, 
“Laut tidak pernah tidur, 
dan dalam keterjagaannya itu laut 
menjadi penghibur bagi jiwa yang terjaga.”

Ketika aku sampai di pantai, kabut dari gunung 
menjuntaikan kakinya seperti selembar jilbab 
yang menghiasi wajah seorang gadis. 
Aku melihat ombak yang berdeburan. 
Aku mendengar puji-pujiannya kepada Tuhan 
dan bermeditasi di atas kekuatan abadi yang tersembunyi 
di dalam ombak-ombak itu– 
kekuatan yang lari bersama angin, 
mendaki gunung, tersenyum lewat bibir sang mawar 
dan menyanyi dengan desiran air 
yang mengalir di parit-parit.
Lalu aku melihat tiga Putera Kegelapan 
duduk di atas sebongkah batu. 
Aku menghampirinya seolah-olah ada kekuatan 
yang menarikku tanpa aku dapat melawannya.

Aku berhenti beberapa langkah dari Putera Kegelapan itu 
seakan-akan ada tenaga magis yang menahanku. 
Saat itu, salah satunya berdiri dan dengan suara 
yang seolah berasal dari dalam laut ia berkata:
“Hidup tanpa cinta ibarat pohon 
yang tidak berbunga dan berbuah. 
Dan cinta tanpa keindahan seperti bunga
tanpa aroma semerbak
dan seperti buah tanpa biji. 
Hidup, cinta dan keindahan adalah tiga dalam satu, 
yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah.”

Putera kedua berkata dengan suara bergema 
seperti air terjun,
“Hidup tanpa berjuang seperti empat musim 
yang kehilangan musim bunganya. 
Dan perjuangan tanpa hak seperti padang pasir yang tandus. 
Hidup, perjuangan dan hak adalah tiga dalam satu 
yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah.”

Kemudian Putera ketiga membuka mulutnya 
seperti dentuman halilintar:

“Hidup tanpa kebebasan seperti tubuh tanpa jiwa, 
dan kebebasan tanpa akal seperti roh yang kebingungan. 
Hidup, kebebasan dan akal adalah tiga dalam satu,
abadi dan tidak pernah sirna.”
Selanjutnya ketiga-tiganya berdiri 
dan berkata dengan suara yang menggerunkan sekali:

Itulah anak-anak cinta,
Buah dari perjuangan,
Akibat dari kebebasan,
Tiga manifestasi Tuhan,
Dan Tuhan adalah ungkapan
dari alam yang bijaksana.

Saat itu diam melangut, 
hanya gemersik sayap-sayap yang tak nampak 
dan getaran tubuh-tubuh halus yang terus-menerus.

Aku menutup mata dan mendengar gema 
yang baru saja berlalu. 
Ketika aku membuka mataku, 
aku tidak lagi melihat Putera-putera Kegelapan itu, 
hanya laut yang dipeluk halimunan. 
Aku duduk, tidak memandang apa-apa pun 
kecuali asap dupa 
yang menggulung ke syurga.

<<*>>


Musim Bunga

Marilah, sayang, 
mari berjalan menjelajahi perbukitan,
Salju telah cair dan Kehidupan telah terjaga 
dari lenanya
dan kini mengembara menyusuri pegunungan 
dan lembah-lembah,
Mari kita ikut jejak-jejak Musim Bunga, 
yang melangkahi
Ladang-ladang jauh, 
dan mendaki puncak-puncak perbukitan
'Tuk menadah ilham dari aras ketinggian,
Di atas hamparan ngarai nan sejuk kehijauan.

Fajar Musim Bunga telah mengeluarkan pakaiannya
dari lipatan simpanan, dan menyangkutnya
pada pohon pic dan sitrus, dan mereka kelihatan 
bagai pengantin 
dalam upacara tradisi Malam Kedre.

Sulur-sulur daun anggur saling berpelukan
bagai kekasih
Air kali pun lincah berlompatan menari ria,
Di sela-sela batuan, 
menyanyikan lagu riang.

Dan bunga-bunga bermekaran dari jantung alam,
Laksana buih-buih bersemburan, 
dari kalbu lautan

Kemarilah, sayang: 
mari meneguk sisa air mata musim dingin, 
dari gelas kelopak bunga lili,
Dan menenangkan jiwa, 
dengan gerimis nada-nada
Curahan simfoni burung-burung yang berkicauan
dan berkelana riang dalam bayu mengasyikkan

Mari duduk di batu besar itu, tempat bunga violet
berteduh dalam persembunyian, dan meniru
Kemanisan mereka 
dalam pertukaran kasih rindu.

<<*>>


Musim Dingin

Mendekatlah ke mari,
oh teman sepanjang hidupku,
Mendekatlah padaku,
dan jangan biarkan sentuhan Musim Dingin,
Mencelah di antara kita.
Duduklah disampingku di depan tungku,
Sebab nyala api adalah satu-satunya nyawa musim ini.

Bicaralah padaku 
tentang kekayaan hatimu,
Yang jauh lebih besar daripada unsur Alam 
yang menggelodak
di luar pintu.

Palanglah pintu dan patri engselnya,
Sebab wajah angkasa menekan semangatku
Dan pemandangan ladang-ladang salju
Menimbulkan tangis dalam jiwaku.
Tuangkan minyak ke dalam lampu,
jangan biarkan ia pudar,
Letakkan dekat wajahmu,
supaya aku boleh membaca dalam tangis
Apa yang telah ditulis pada wajahmu
Tentang kehidupan kau bersamaku..

Berilah aku anggur Musim Gugur, 
dan mari minum bersama
Sambil mendendangkan lagu kenangan 
pada gairah Musim Bunga
Dan layanan hangat Musim Panas, 
serta anugerah tuaian dari Musim Gugur.

Mendekatlah padaku,
oh kekasih jiwaku;
api mendingin dalam tungku,
Menyelinap padam nyalanya satu-satu,
dari timbunan abu

Dekaplah aku, 
sebab aku ngeri akan kesepian.
Lampu meredup, 
dan anggur minuman
membuat mata sayu mengatup.
Mari kita saling berpandangan, 
sebelum mata tertutup.
Cari aku dengan rabaan, 
temui daku dalam pelukan
Lalu biarkan kabut malam 
merangkul jiwa kita menjadi satu

Kecuplah aku, kekasihku,
karena Musim Dingin,
Telah merenggut segala,
kecuali bibir yang berkata:
Engkau dalam dekapan,
oh Kekasihku Abadi,
Betapa dalam dan kuat samudera lena,
Dan betapa cepatnya subuh...

<<*>>


Sebutir Debu

Adalah sebutir debu…
Meringkuk kedinginan… 
Mengitari bumi tanpa rona
Selimut kecilnya tersapu angkasa
Rajut penghangatnya tercerai tanpa janji

Rindu…
Masih mendekam dalam setiap detak jantung nafasnya
Walau hanya sekedar sapa... 
hanya sebatas tanya

Di setiap penat letih dan keterpurukannya
Dia berlari di tengah gurun gulita
Mengais-ais oase kehangatan

Bintang di tirai angkasa, 
tak cukup untuk menghangatkannya
Mencari bulan, namun raib
Mentari, ia pun terlelap.

Biarkan....
Biarkan saja dia sendiri
Menikmati renungan gulita
Biarkan sang raja malam mengurungnya
Memenjarakannya dalam gelap
Menghangatkan diri sendiri 
di perapian bagaskara.

<<*>>

No comments:

Post a Comment

Puisi Kahlil Gibran tentang Keluarga

Anak Dan seorang perempuan yang menggendong bayi  dalam dekapan dadanya berkata,  Bicaralah pada kami perihal Anak. Dan dia berkata: Anak-an...