Wednesday, September 11, 2019

Puisi Kahlil Gibran tentang Kehidupan


Kehidupan

Manusia bergumul 
untuk menemukan kehidupan 
di luar dirinya. 
Tidak sadar bahwa kehidupan
yang dicari-carinya ada 
di dalam dirinya sendiri.
Kehidupan adalah ibarat wanita yang mandi 
di dalam air mata 
kekasih-kekasihnya, 
dan mengurapi dirinya dengan darah 
para korbannya.

Pakaiannya adalah hari-hari yang putih, 
yang bergaris kegelapan malam. 
Ia jadikan hati manusia kekasihnya, 
tetapi tidak mau menikahinya.

Kehidupan adalah penghibur yang merayu kita
dengan kecantikannya. 
Tetapi ia yang mengenal tipu muslihatnya akan lari 
dari hiburannya.

~***~

Betapa sering aku berbicara 
dengan para professor Harvard, 
tetapi merasa seolah-olah berbicara 
dengan professor Al-Azhar! 
Betapa sering aku bercakap-cakap 
dengan wanita Boston dan 
mendengar mereka mengucapkan hal-hal 
yang dulu suka kudengar 
dari wanita-wanita tua yang sederhana 
dan tak tahu apa-apa di Syria

Kehidupan adalah satu, Mikhail.

Ia mewujudkan dirinya 
di desa-desa di Lebanon, 
sama seperti di Boston, New York, 
dan San Fransisco. 

~***~


7 Alasan Mencela Diriku

Tujuh kali aku pernah mencela jiwaku,
Pertama kali ketika aku melihatnya lemah,
padahal seharusnya ia bisa kuat.

Kedua kali ketika melihatnya 
berjalan terjingkat-jingkat
di hadapan orang yang lumpuh

Ketiga kali ketika berhadapan 
dengan pilihan yang sulit dan mudah,
ia memilih yang mudah

Keempat kalinya, 
ketika ia melakukan kesalahan 
dan mencoba menghibur diri
dengan mengatakan bahwa semua orang 
juga melakukan kesalahan

Kelima kali, 
ia menghindar karena takut, 
lalu mengatakannya sebagai sabar

Keenam kali, 
ketika ia mengejek kepada seraut wajah buruk
padahal ia tahu, 
bahwa wajah itu adalah salah satu topeng 
yang sering ia pakai

Dan ketujuh, 
ketika ia menyanyikan lagu pujian 
dan menganggap itu sebagai sesuatu 
yang bermanfaat

~***~

Persahabatan

Dan seorang remaja berkata, 
Bicaralah pada kami tentang 
Persahabatan.

Dan dia menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih 
dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Karena kau menghampirinya 
saat hati lupa dan mencarinya 
saat jiwa ingin kedamaian.

Bila dia berbicara, mengungkapkan pikirannya, 
kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, 
pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam, 
hatimu berhenti dari mendengar hatinya; 
karena tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan, 
segala pikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan 
bersama dan berbagi dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, 
tiadalah kau berdukacita;
Karena yang paling kau kasihi dalam dirinya, 
mungkin kau 
nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, 
bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, 
nampak lebih agung 
daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali 
saling memperkaya roh kejiwaan.
Karena cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, 
bukanlah cinta, tetapi sebuah jala yang ditebarkan: 
hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, 
biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika kau senantiasa mencarinya, 
untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, 
bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, 
biarkanlah ada tawa ria
dan berbagi kegembiraan..
Karena dalam titisan kecil embun pagi, 
hati manusia menemui fajar
 dan gairah segar kehidupan.

~***~

Nyanyian Sukma

Di dasar relung jiwaku bergema nyanyian tanpa kata;
sebuah lagu yang bernafas di dalam benih hatiku,
Yang tiada dicairkan oleh tinta di atas lembar kulit;
ia meneguk rasa kasihku dalam jubah yang tipis kainnya,
dan mengalirkan sayang, 
namun bukan menyentuh bibirku.
Betapa dapat aku mendesahkannya?
Aku bimbang dia mungkin berbaur dengan kerajaan fana
kepada siapa aku akan menyanyikannya?
Dia tersimpan dalam relung sukmaku
karena aku risau, dia akan terhempas
di telinga pendengaran yang keras.
Pabila kutatap penglihatan batinku

Nampak di dalamnya bayangan dari bayangannya,
dan pabila kusentuh ujung jemariku
terasa getaran kehadirannya.
Perilaku tanganku saksi bisu kehadirannya,
bagai danau tenang yang memantulkan cahaya 
bintang-bintang bergemerlapan.

Air mataku menandai sendu
bagai titik-titik embun syahdu
yang membongkarkan rahasia mawar layu.
Lagu itu digubah oleh renungan,
dan dikumandangkan oleh kesunyian,
dan disingkiri oleh kebisingan, dan dilipat oleh kebenaran,
dan diulang-ulang oleh mimpi dan bayangan,
dan difahami oleh cinta,
dan disembunyikan oleh kesadaran siang
dan dinyanyikan oleh sukma malam.
Lagu itu lagu kasih-sayang,
gerangan ‘cain’ atau ‘esau’ manakah yang mampu 
membawakannya berkumandang?
Nyanyian itu lebih semerbak wangi daripada melati:
suara manakah yang dapat menangkapnya?
Kidung itu tersembunyi bagai rahasia perawan suci,
getar nada mana yang mampu menggoyahnya?
Siapa berani menyatukan debur ombak samudra 
dengan kicau bening burung malam?
Siapa yang berani membandingkan deru alam, 
dengan desah bayi yang nyenyak di buaian?
Siapa berani memecah sunyi
dan lantang menuturkan bisikan sanubari
yang hanya terungkap oleh hati?
Insan mana yang berani melagukan kidung suci Tuhan?

~***~


Prosa (V)

Aku akan melakukan segala apa yang telah engkau ucapkan tadi
Dan aku akan menjadikan jiwaku 
sebagai sebuah kelambu yang
menyelubungi jiwamu.
Hatiku akan menjadi tempat tinggal keanggunanmu
serta dadaku akan menjadi kubur bagi penderitaanmu.
Aku akan selalu mencintaimu… sebagaimana padang rumput
yang luas mencintai musim bunga.

Aku akan hidup di dalam dirimu
laksana bunga-bunga yang hidup 
oleh panas matahari.
Aku akan menyanyikan namamu seperti lembah 
menyanyikan gema lonceng di desa
Aku akan mendengar bahasa jiwamu seperti pantai 
mendengarkan kisah-kisah gelombang.
Aku akan mengingatmu seperti perantau asing 
yang mengenang tanah air tercintanya,
Sebagaimana orang lapar mengingati pesta jamuan makan,
Seperti raja yang turun takhta mengingati masa-masa 
kegemilangannya,
Dan seperti seorang tahanan mengingati 
masa-masa kesenangan dan kebebasan.
Aku akan mengingatmu sebagaimana seorang petani 
yang mengingat bekas-bekas gandum 
di lantai tempat simpanannya,
juga seperti gembala mengingati padang rumput yang luas dan
sungai yang segar airnya.”

~***~


Pikiran dan Samadi

Hidup menjemput dan melantunkan kita 
dari satu tempat ke tempat yang lain. 
Nasib memindahkan kita dari satu tahap ke tahap yang lain. 
Dan kita yang diburu oleh keduanya, 
hanya mendengar suara yang mengerikan, 
dan hanya melihat susuk yang menghalangi 
dan merintangi jalan kita.

Keindahan menghadirkan dirinya dengan duduk di atas 
singgasana keagungan; tapi kami mendekatinya atas dorongan Nafsu; merenggut mahkota kesuciannya, 
dan mengotori busananya dengan tindak laku durhaka.

Cinta berlalu di depan kita, 
berjubahkan kelembutan; tapi kita lari ketakutan, 
atau bersembunyi dalam kegelapan, 
atau ada pula yang malahan mengikutinya, 
untuk berbuat kejahatan atas namanya.
Meskipun orang yang paling bijaksana terbongkok 
karena memikul beban Cinta, 
tapi sebenarnya beban itu seiringan bayu pawana Lebanon 
yang berpuput riang.

Kebebasan mengundang kita pada mejanya 
agar kita menikmati makanan lezat dan anggurnya; 
tapi bila kita telah duduk menghadapinya, 
kita pun makan dengan lahap dan rakus.

Tangan Alam menyambut hangat kedatangan kita, 
dan menawarkan pula agar kita menikmati keindahannya; 
tapi kita takut akan keheningannya, 
lalu bergegas lari ke kota yang ramai, 
berhimpit-himpitan seperti kawanan kambing
yang lari ketakutan dari serigala garang. 

Kebenaran memanggil-manggil kita 
di antara tawa anak-anak atau ciuman kekasih, 
tapi kita menutup pintu keramahan baginya, 
dan menghadapinya bagaikan musuh.

Hati manusia menyeru pertolongan; 
jiwa manusia memohon pembebasan; 
tapi kita tidak mendengar teriakan mereka, 
karena kita tidak membuka telinga dan berniat memahaminya. 
Namun orang yang mendengar dan memahaminya kita sebut gila 
lalu kita tinggalkan.
Malampun berlalu, hidup kita lelah dan kurang waspada, 
sedang hari pun memberi salam dan merangkul kita. 
Tapi di siang dan malam hari, kita senantiasa ketakutan.

Kita amat terikat pada bumi, sedangkan gerbang Tuhan terbuka lebar. Kita menginjak-injak roti Kehidupan, 
sedangkan kelaparan memamah hati kita. 
Sungguh betapa budiman Sang Hidup terhadap Manusia, 
namun betapa jauh Manusia meninggalkan Sang Hidup.

~***~


Dua Keinginan

Di keheningan malam, Sang Maut turun 
atas perintahTuhan menuju ke bumi.
Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati 
seluruh penghuni dengan tatapan matanya. 
Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang 
dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena 
di dalam kekuasaan Sang Lelap.

Ketika rembulan tersungkur di kaki langit, 
dan kota itu berubah warna menjadi hitam kepekatan, 
Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di celah-celah 
kediaman –berhati-hati agar tidak menyentuh apa pun–
sehingga tiba di sebuah istana. 
Ia masuk melalui pagar besi berpaku tanpa satupun halangan 
dan berdiri di sisi sebuah ranjang ,
dan ketika ia menyentuh dahi si lena, 
lelaki itu membuka kelopak matanya
dan memandang dengan penuh ketakutan.

Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, 
dia menjerit dengan suara ketakutan bercampur aduk kemarahan, 
“Pergilah kau dariku, mimpi yang mengerikan! 
Pergilah engkau makhluk jahat! 
Siapakah engkau ini? 
Dan bagaimana mungkin kau memasuki istana ini? 
Apa yang kau inginkan? 
Tinggalkan rumah ini dengan segera! 
Ingatlah, akulah tuan rumah ini. 
Enyahlah kau, kalau tidak, 
kupanggil para hamba suruhanku dan para pengawalku 
untuk mencincangmu menjadi kepingan!”

Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, 
tapi sangat menakutkan, 
“Akulah kematian, 
berdiri dan tunduklah padaku.”
Dan si lelaki itu menjawab, 
“Apa yang kau inginkan dariku sekarang, 
dan benda apa yang kau cari? 
Kenapa kau datang ketika urusanku belum selesai? 
Apa yang kau inginkan dari orang kaya berkuasa seperti aku? 
Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia! 
Aku ngeri melihat taring-taringmu yang berdarah 
dan wajahmu yang bengis, 
dan mataku sakit menatap sayap-sayapmu 
yang menjijikkan 
dan tubuhmu yang meloyakan.”
Namun setelah sadar, 
dia menambah dengan ketakutan, 
“Tidak, tidak, Maut yang pengampun, 
jangan pedulikan apa yang telah kukatakan, 
karena rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata 
yang sesungguhnya terlarang. 
Maka ambillah onggokan emasku sesukamu 
atau nyawa salah seorang dari hamba-hambaku,
dan tinggalkanlah diriku… 
Aku masih mempunyai urusan kehidupan yang belum selesai 
dan berhutang emas dengan orang. 
Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, permintaanku... 
jangan ambil nyawaku… 
Ambillah olehmu barang yang kau inginkan 
dan tinggalkanlah daku. 
Aku punya perempuan simpanan 
yang luar biasa cantiknya untuk kau pilih, Kematian. 
Dengarlah lagi: 
Aku punya seorang putera tunggal yang kusayangi, 
dialah sumber kegembiraan hidupku. 
Kutawarkan dia juga sebagai pengganti, 
tapi nyawaku jangan kau cabut 
dan tinggalkan diriku sendirian.”

Sang Maut itu pun mengeluh, 
“Engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak sadar diri.” 
Kemudian Maut mengambil tangan orang hina itu, 
mencabut nyawanya, 
dan memberikannya kepada para malaikat di langit 
untuk menghukumnya.
Dan Maut berjalan perlahan di antara 
setinggan orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah 
paling miskin yang ia temukan. 
Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda 
dengan kelelapan yang damai. 
Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga. 
Dan ketika melihat Sang Maut berdiri di sampingnya, 
ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan, 
“Aku di sini, wahai Sang Maut yang cantik. 
Sambutlah rohku, karena kaulah harapan impianku. 
Peluklah diriku, kekasih jiwaku, 
karena kau sangat penyayang dan tak kan 
meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi, 
kaulah tangan kanan kebenaran. 
Bawalah daku pada Ilahi. Jangan tinggalkan daku di sini.”

“Aku telah memanggil dan merayumu berulang kali, 
namun kau tak jua datang. 
Tapi kini kau telah mendengar suaraku, 
karena itu jangan kecewakan cintaku dengan menjauhi diriku. 
Peluklah rohku, 
Sang Maut yang dikasihi.”

Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya 
ke atas bibir yang bergetar itu, 
mencabut nyawanya, 
dan menaruh 
roh itu di bawah perlindungan sayap-sayapnya.

Ketika ia naik kembali ke langit, 
Maut menoleh ke belakang —
 ke dunia – dan dalam bisikan amaran ia berkata, 
“Hanya mereka di dunia yang mencari Keabadianlah 
yang sampai kepada Keabadian itu.”

~***~


Peradaban

Kesengsaraan bangsa-bangsa Asia 
adalah kesengsaraan dunia juga. 
Dan yang engkau sebut peradaban di Barat hanyalah satu lagi 
makam hantu-hantu penyesatan yang tragis.

~***~

Penciptaan dan penemuan hanyalah hiburan 
dan kesenangan bagi tubuh 
ketika ia letih dan lesu.

Upaya menaklukkan jarak 
serta menaklukkan lautan 
hanyalah buah palsu yang tidak memuaskan jiwa, 
ataupun memupuk hati, atau mengangkat roh, 
sebab jauh dari alam.

Dan struktur-struktur serta teori-teori 
yang disebut manusia sebagai pengetahuan 
dan kesenian hanyalah belenggu dan rantai emas 
yang diseret manusia, dan manusia bersukacita 
dengan kemilaunya serta dentingan suaranya. 

Semua itu adalah kurungan yang kuat, 
yang jerujinya telah dibuat oleh manusia 
berabad-abad yang silam, 
tidak sadar bahwa ia sedang 
membangun dari sebelah dalam, 
dan bahwa ia akan segera menjadi tawanannya sendiri 
selamanya.

~***~


Kehidupan di Desa

Kita yang hidup di tengah-tengah gemerlap kota, 
tidak tahu apa-apa tentang kehidupan orang-orang desa 
di pegunungan.

Kita tersapu ke dalam keberadaan perkotaan yang sekarang, 
hingga kita lupa irama kehidupan di desa yang sederhana, 
yang penuh kedamaian, 
yang menuai di musim gugur, 
beristirahat di musim dingin, 
meniru alam dalam segala siklusnya.
Kita lebih kaya daripada orang desa dalam perak dan emas, 
tetapi mereka lebih kaya dalam roh.
Yang kita taburkan tidak kita tuai. 
Mereka menuai apa yang mereka taburkan. 
Kita adalah budak keuntungan, 
dan mereka adalah anak-anak kecukupan diri. 
Kekeringan kita akan cawan kehidupan bercampur 
dengan kepahitan serta keputus-asaan, 
ketakutan dan keletihan, 
tetapi mereka minum manisnya kepenuhan kehidupan.

~***~


Kota

Wahai penduduk kota yang bising, 
yang hidup dalam kegelapan, 
yang bergegas menuju kenelangsaan, 
yang mengkhotbahkan kepalsuan, 
dan berbicara dengan kebodohan.... 
Sampai kapankah engkau tetap tidak tahu apa-apa? 
Sampai kapankah engkau hidup dalam kotornya kehidupan 
dan terus meninggalkan kebun-kebunnya?

Mengapakah engkau mengenakan jubahmu
yang compang-camping, berupa kepicikan, 
padahal alam telah merancang pakaian 
dari sutera yang indah bagimu?

Pelita hikmat sudah meredup, 
tibalah saat untuk mengisi ulang minyaknya. 
Rumah keberuntungan sejati mulai dihancurkan. 
Tibalah saatnya untuk membangun kembali 
dan menjaganya. 
Pencuri-pencuri berupa ketidaktahuan 
telah mencuri harta berupa kedamaianmu. 
Tibalah saatnya untuk merebutnya kembali

~***~

No comments:

Post a Comment

Puisi Kahlil Gibran tentang Keluarga

Anak Dan seorang perempuan yang menggendong bayi  dalam dekapan dadanya berkata,  Bicaralah pada kami perihal Anak. Dan dia berkata: Anak-an...