Kehidupan
Manusia bergumul
untuk menemukan kehidupan
di luar dirinya.
Tidak sadar bahwa kehidupan
yang dicari-carinya ada
di dalam dirinya sendiri.
Kehidupan adalah ibarat wanita yang mandi
di dalam air mata
kekasih-kekasihnya,
dan mengurapi dirinya dengan darah
para korbannya.
Pakaiannya adalah hari-hari yang putih,
yang bergaris kegelapan malam.
Ia jadikan hati manusia kekasihnya,
tetapi tidak mau menikahinya.
Kehidupan adalah penghibur yang merayu kita
dengan kecantikannya.
Tetapi ia yang mengenal tipu muslihatnya akan lari
dari hiburannya.
~***~
Betapa sering aku berbicara
dengan para professor Harvard,
tetapi merasa seolah-olah berbicara
dengan professor Al-Azhar!
Betapa sering aku bercakap-cakap
dengan wanita Boston dan
mendengar mereka mengucapkan hal-hal
yang dulu suka kudengar
dari wanita-wanita tua yang sederhana
dan tak tahu apa-apa di Syria
Kehidupan adalah satu, Mikhail.
Ia mewujudkan dirinya
di desa-desa di Lebanon,
sama seperti di Boston, New York,
dan San Fransisco.
~***~
7 Alasan Mencela Diriku
Tujuh kali aku pernah mencela jiwaku,
Pertama kali ketika aku melihatnya lemah,
padahal seharusnya ia bisa kuat.
Kedua kali ketika melihatnya
berjalan terjingkat-jingkat
di hadapan orang yang lumpuh
Ketiga kali ketika berhadapan
dengan pilihan yang sulit dan mudah,
ia memilih yang mudah
Keempat kalinya,
ketika ia melakukan kesalahan
dan mencoba menghibur diri
dengan mengatakan bahwa semua orang
juga melakukan kesalahan
Kelima kali,
ia menghindar karena takut,
lalu mengatakannya sebagai sabar
Keenam kali,
ketika ia mengejek kepada seraut wajah buruk
padahal ia tahu,
bahwa wajah itu adalah salah satu topeng
yang sering ia pakai
Dan ketujuh,
ketika ia menyanyikan lagu pujian
dan menganggap itu sebagai sesuatu
yang bermanfaat
~***~
Persahabatan
Dan seorang remaja berkata,
Bicaralah pada kami tentang
Persahabatan.
Dan dia menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih
dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Karena kau menghampirinya
saat hati lupa dan mencarinya
saat jiwa ingin kedamaian.
Bila dia berbicara, mengungkapkan pikirannya,
kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri,
pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,
hatimu berhenti dari mendengar hatinya;
karena tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan,
segala pikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan
bersama dan berbagi dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat,
tiadalah kau berdukacita;
Karena yang paling kau kasihi dalam dirinya,
mungkin kau
nampak lebih jelas dalam ketiadaannya,
bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki,
nampak lebih agung
daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali
saling memperkaya roh kejiwaan.
Karena cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya,
bukanlah cinta, tetapi sebuah jala yang ditebarkan:
hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu,
biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika kau senantiasa mencarinya,
untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu,
bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan,
biarkanlah ada tawa ria
dan berbagi kegembiraan..
Karena dalam titisan kecil embun pagi,
hati manusia menemui fajar
dan gairah segar kehidupan.
~***~
Nyanyian Sukma
Di dasar relung jiwaku bergema nyanyian tanpa kata;
sebuah lagu yang bernafas di dalam benih hatiku,
Yang tiada dicairkan oleh tinta di atas lembar kulit;
ia meneguk rasa kasihku dalam jubah yang tipis kainnya,
dan mengalirkan sayang,
namun bukan menyentuh bibirku.
Betapa dapat aku mendesahkannya?
Aku bimbang dia mungkin berbaur dengan kerajaan fana
kepada siapa aku akan menyanyikannya?
Dia tersimpan dalam relung sukmaku
karena aku risau, dia akan terhempas
di telinga pendengaran yang keras.
Pabila kutatap penglihatan batinku
Nampak di dalamnya bayangan dari bayangannya,
dan pabila kusentuh ujung jemariku
terasa getaran kehadirannya.
Perilaku tanganku saksi bisu kehadirannya,
bagai danau tenang yang memantulkan cahaya
bintang-bintang bergemerlapan.
Air mataku menandai sendu
bagai titik-titik embun syahdu
yang membongkarkan rahasia mawar layu.
Lagu itu digubah oleh renungan,
dan dikumandangkan oleh kesunyian,
dan disingkiri oleh kebisingan, dan dilipat oleh kebenaran,
dan diulang-ulang oleh mimpi dan bayangan,
dan difahami oleh cinta,
dan disembunyikan oleh kesadaran siang
dan dinyanyikan oleh sukma malam.
Lagu itu lagu kasih-sayang,
gerangan ‘cain’ atau ‘esau’ manakah yang mampu
membawakannya berkumandang?
Nyanyian itu lebih semerbak wangi daripada melati:
suara manakah yang dapat menangkapnya?
Kidung itu tersembunyi bagai rahasia perawan suci,
getar nada mana yang mampu menggoyahnya?
Siapa berani menyatukan debur ombak samudra
dengan kicau bening burung malam?
Siapa yang berani membandingkan deru alam,
dengan desah bayi yang nyenyak di buaian?
Siapa berani memecah sunyi
dan lantang menuturkan bisikan sanubari
yang hanya terungkap oleh hati?
Insan mana yang berani melagukan kidung suci Tuhan?
~***~
Prosa (V)
Aku akan melakukan segala apa yang telah engkau ucapkan tadi
Dan aku akan menjadikan jiwaku
sebagai sebuah kelambu yang
menyelubungi jiwamu.
Hatiku akan menjadi tempat tinggal keanggunanmu
serta dadaku akan menjadi kubur bagi penderitaanmu.
Aku akan selalu mencintaimu… sebagaimana padang rumput
yang luas mencintai musim bunga.
Aku akan hidup di dalam dirimu
laksana bunga-bunga yang hidup
oleh panas matahari.
Aku akan menyanyikan namamu seperti lembah
menyanyikan gema lonceng di desa
Aku akan mendengar bahasa jiwamu seperti pantai
mendengarkan kisah-kisah gelombang.
Aku akan mengingatmu seperti perantau asing
yang mengenang tanah air tercintanya,
Sebagaimana orang lapar mengingati pesta jamuan makan,
Seperti raja yang turun takhta mengingati masa-masa
kegemilangannya,
Dan seperti seorang tahanan mengingati
masa-masa kesenangan dan kebebasan.
Aku akan mengingatmu sebagaimana seorang petani
yang mengingat bekas-bekas gandum
di lantai tempat simpanannya,
juga seperti gembala mengingati padang rumput yang luas dan
sungai yang segar airnya.”
~***~
Pikiran dan Samadi
Hidup menjemput dan melantunkan kita
dari satu tempat ke tempat yang lain.
Nasib memindahkan kita dari satu tahap ke tahap yang lain.
Dan kita yang diburu oleh keduanya,
hanya mendengar suara yang mengerikan,
dan hanya melihat susuk yang menghalangi
dan merintangi jalan kita.
Keindahan menghadirkan dirinya dengan duduk di atas
singgasana keagungan; tapi kami mendekatinya atas dorongan Nafsu; merenggut mahkota kesuciannya,
dan mengotori busananya dengan tindak laku durhaka.
Cinta berlalu di depan kita,
berjubahkan kelembutan; tapi kita lari ketakutan,
atau bersembunyi dalam kegelapan,
atau ada pula yang malahan mengikutinya,
untuk berbuat kejahatan atas namanya.
Meskipun orang yang paling bijaksana terbongkok
karena memikul beban Cinta,
tapi sebenarnya beban itu seiringan bayu pawana Lebanon
yang berpuput riang.
Kebebasan mengundang kita pada mejanya
agar kita menikmati makanan lezat dan anggurnya;
tapi bila kita telah duduk menghadapinya,
kita pun makan dengan lahap dan rakus.
Tangan Alam menyambut hangat kedatangan kita,
dan menawarkan pula agar kita menikmati keindahannya;
tapi kita takut akan keheningannya,
lalu bergegas lari ke kota yang ramai,
berhimpit-himpitan seperti kawanan kambing
yang lari ketakutan dari serigala garang.
Kebenaran memanggil-manggil kita
di antara tawa anak-anak atau ciuman kekasih,
tapi kita menutup pintu keramahan baginya,
dan menghadapinya bagaikan musuh.
Hati manusia menyeru pertolongan;
jiwa manusia memohon pembebasan;
tapi kita tidak mendengar teriakan mereka,
karena kita tidak membuka telinga dan berniat memahaminya.
Namun orang yang mendengar dan memahaminya kita sebut gila
lalu kita tinggalkan.
Malampun berlalu, hidup kita lelah dan kurang waspada,
sedang hari pun memberi salam dan merangkul kita.
Tapi di siang dan malam hari, kita senantiasa ketakutan.
Kita amat terikat pada bumi, sedangkan gerbang Tuhan terbuka lebar. Kita menginjak-injak roti Kehidupan,
sedangkan kelaparan memamah hati kita.
Sungguh betapa budiman Sang Hidup terhadap Manusia,
namun betapa jauh Manusia meninggalkan Sang Hidup.
~***~
Dua Keinginan
Di keheningan malam, Sang Maut turun
atas perintahTuhan menuju ke bumi.
Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati
seluruh penghuni dengan tatapan matanya.
Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang
dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena
di dalam kekuasaan Sang Lelap.
Ketika rembulan tersungkur di kaki langit,
dan kota itu berubah warna menjadi hitam kepekatan,
Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di celah-celah
kediaman –berhati-hati agar tidak menyentuh apa pun–
sehingga tiba di sebuah istana.
Ia masuk melalui pagar besi berpaku tanpa satupun halangan
dan berdiri di sisi sebuah ranjang ,
dan ketika ia menyentuh dahi si lena,
lelaki itu membuka kelopak matanya
dan memandang dengan penuh ketakutan.
Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya,
dia menjerit dengan suara ketakutan bercampur aduk kemarahan,
“Pergilah kau dariku, mimpi yang mengerikan!
Pergilah engkau makhluk jahat!
Siapakah engkau ini?
Dan bagaimana mungkin kau memasuki istana ini?
Apa yang kau inginkan?
Tinggalkan rumah ini dengan segera!
Ingatlah, akulah tuan rumah ini.
Enyahlah kau, kalau tidak,
kupanggil para hamba suruhanku dan para pengawalku
untuk mencincangmu menjadi kepingan!”
Kemudian Maut berkata dengan suara lembut,
tapi sangat menakutkan,
“Akulah kematian,
berdiri dan tunduklah padaku.”
Dan si lelaki itu menjawab,
“Apa yang kau inginkan dariku sekarang,
dan benda apa yang kau cari?
Kenapa kau datang ketika urusanku belum selesai?
Apa yang kau inginkan dari orang kaya berkuasa seperti aku?
Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia!
Aku ngeri melihat taring-taringmu yang berdarah
dan wajahmu yang bengis,
dan mataku sakit menatap sayap-sayapmu
yang menjijikkan
dan tubuhmu yang meloyakan.”
Namun setelah sadar,
dia menambah dengan ketakutan,
“Tidak, tidak, Maut yang pengampun,
jangan pedulikan apa yang telah kukatakan,
karena rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata
yang sesungguhnya terlarang.
Maka ambillah onggokan emasku sesukamu
atau nyawa salah seorang dari hamba-hambaku,
dan tinggalkanlah diriku…
Aku masih mempunyai urusan kehidupan yang belum selesai
dan berhutang emas dengan orang.
Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, permintaanku...
jangan ambil nyawaku…
Ambillah olehmu barang yang kau inginkan
dan tinggalkanlah daku.
Aku punya perempuan simpanan
yang luar biasa cantiknya untuk kau pilih, Kematian.
Dengarlah lagi:
Aku punya seorang putera tunggal yang kusayangi,
dialah sumber kegembiraan hidupku.
Kutawarkan dia juga sebagai pengganti,
tapi nyawaku jangan kau cabut
dan tinggalkan diriku sendirian.”
Sang Maut itu pun mengeluh,
“Engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak sadar diri.”
Kemudian Maut mengambil tangan orang hina itu,
mencabut nyawanya,
dan memberikannya kepada para malaikat di langit
untuk menghukumnya.
Dan Maut berjalan perlahan di antara
setinggan orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah
paling miskin yang ia temukan.
Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda
dengan kelelapan yang damai.
Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga.
Dan ketika melihat Sang Maut berdiri di sampingnya,
ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan,
“Aku di sini, wahai Sang Maut yang cantik.
Sambutlah rohku, karena kaulah harapan impianku.
Peluklah diriku, kekasih jiwaku,
karena kau sangat penyayang dan tak kan
meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi,
kaulah tangan kanan kebenaran.
Bawalah daku pada Ilahi. Jangan tinggalkan daku di sini.”
“Aku telah memanggil dan merayumu berulang kali,
namun kau tak jua datang.
Tapi kini kau telah mendengar suaraku,
karena itu jangan kecewakan cintaku dengan menjauhi diriku.
Peluklah rohku,
Sang Maut yang dikasihi.”
Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya
ke atas bibir yang bergetar itu,
mencabut nyawanya,
dan menaruh
roh itu di bawah perlindungan sayap-sayapnya.
Ketika ia naik kembali ke langit,
Maut menoleh ke belakang —
ke dunia – dan dalam bisikan amaran ia berkata,
“Hanya mereka di dunia yang mencari Keabadianlah
yang sampai kepada Keabadian itu.”
~***~
Peradaban
Kesengsaraan bangsa-bangsa Asia
adalah kesengsaraan dunia juga.
Dan yang engkau sebut peradaban di Barat hanyalah satu lagi
makam hantu-hantu penyesatan yang tragis.
~***~
Penciptaan dan penemuan hanyalah hiburan
dan kesenangan bagi tubuh
ketika ia letih dan lesu.
Upaya menaklukkan jarak
serta menaklukkan lautan
hanyalah buah palsu yang tidak memuaskan jiwa,
ataupun memupuk hati, atau mengangkat roh,
sebab jauh dari alam.
Dan struktur-struktur serta teori-teori
yang disebut manusia sebagai pengetahuan
dan kesenian hanyalah belenggu dan rantai emas
yang diseret manusia, dan manusia bersukacita
dengan kemilaunya serta dentingan suaranya.
Semua itu adalah kurungan yang kuat,
yang jerujinya telah dibuat oleh manusia
berabad-abad yang silam,
tidak sadar bahwa ia sedang
membangun dari sebelah dalam,
dan bahwa ia akan segera menjadi tawanannya sendiri
selamanya.
~***~
Kehidupan di Desa
Kita yang hidup di tengah-tengah gemerlap kota,
tidak tahu apa-apa tentang kehidupan orang-orang desa
di pegunungan.
Kita tersapu ke dalam keberadaan perkotaan yang sekarang,
hingga kita lupa irama kehidupan di desa yang sederhana,
yang penuh kedamaian,
yang menuai di musim gugur,
beristirahat di musim dingin,
meniru alam dalam segala siklusnya.
Kita lebih kaya daripada orang desa dalam perak dan emas,
tetapi mereka lebih kaya dalam roh.
Yang kita taburkan tidak kita tuai.
Mereka menuai apa yang mereka taburkan.
Kita adalah budak keuntungan,
dan mereka adalah anak-anak kecukupan diri.
Kekeringan kita akan cawan kehidupan bercampur
dengan kepahitan serta keputus-asaan,
ketakutan dan keletihan,
tetapi mereka minum manisnya kepenuhan kehidupan.
~***~
Kota
Wahai penduduk kota yang bising,
yang hidup dalam kegelapan,
yang bergegas menuju kenelangsaan,
yang mengkhotbahkan kepalsuan,
dan berbicara dengan kebodohan....
Sampai kapankah engkau tetap tidak tahu apa-apa?
Sampai kapankah engkau hidup dalam kotornya kehidupan
dan terus meninggalkan kebun-kebunnya?
Mengapakah engkau mengenakan jubahmu
yang compang-camping, berupa kepicikan,
padahal alam telah merancang pakaian
dari sutera yang indah bagimu?
Pelita hikmat sudah meredup,
tibalah saat untuk mengisi ulang minyaknya.
Rumah keberuntungan sejati mulai dihancurkan.
Tibalah saatnya untuk membangun kembali
dan menjaganya.
Pencuri-pencuri berupa ketidaktahuan
telah mencuri harta berupa kedamaianmu.
Tibalah saatnya untuk merebutnya kembali
~***~
No comments:
Post a Comment