Kepribadian yang dalam bahasa inggrisnya adalah personality, secara umum menunjuk pada bagaimana setiap individu menampilkan dirinya sehingga memberikan kesan tertentu bagi individu-individu lain yang berinteraksi dengannya. Namun, banyak penilaian yang menganggap bahwa definisi di atas adalah lemah, karena hanya menilai perilaku yang bisa diamati saja, padahal perilaku individu bisa saja berubah tergantung situasi di sekitarnya.
Selain itu, karena definisi tadi bersifat evaluatif/menilai maka menjadi lemah sebab yang disebut kepribadian itu tidak bisa dinilai “baik” atau “buruk” karena bersifat netral. Sedangkan penilaian “baik” atau “buruk” itu sangat relatif. “Baik” menurut seseorang belum tentu “baik” menurut orang lain. Demikian juga sebaliknya, sesuatu yang “buruk” menurut seseorang belum tentu “buruk” menurut orang lain.
Namun demikian, terlepas dari apapun mengenai definisi kepribadian, sebagai makhluk sosial, manusia tentu perlu mengenal karakter individu lain selain dirinya sebagai bagian dari kebutuhannya dalam interaksi sosial.
Segala hal yang berhubungan dengan kepribadian sangat menarik untuk dibahas, karena selalu berhubungan dengan makhluk yang memiliki eksistensi paling penting di bumi ini, yaitu : Manusia.
Manusia adalah makhluk yang berkepribadian, dan kepribadian tersebut memberinya ciri khusus yang membedakannya dari manusia lainnya. Tanpa memiliki kepribadian, manusia tidak akan memiliki identitas diri, tidak ada arah dan tujuan hidup, dan tidak akan bisa memaknai eksistensinya di dunia ini. Manusia tanpa kepribadian? Berarti bukan manusia.
Manusia memiliki akal yang memungkinkannya membentuk pemahaman tentang nilai, dan status hukum, serta bagaimana harus menentukan sikapnya terhadap suatu pemikiran atau fakta. Hal ini berarti bahwa dengan menggunakan akalnya, manusia bisa menemukan pemahaman yang tepat baginya mengenai acuan yang dipakai dalam membedakan antara hal-hal yang dianggap terpuji dengan hal-hal yang dianggap tercela, serta hal apa saja yang pantas diterima dan mana saja yang harus ditolak, mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk, dan lain sebagainya.
Dengan memiliki pemahaman akan nilai-nilai maupun pemahaman akan hukum atas suatu fakta itulah yang memungkinkan manusia bisa menentukan kecenderungan mengenai hal-hal apa yang dia hadapi. Akan halnya yang dimaksud dengan kecenderungan disini adalah : suatu hasrat atau keinginan tertentu yang terbentuk oleh adanya pemahaman akan sesuatu.
Kecenderungan seperti ini hanya bisa ditemukan pada manusia, hal ini dikarenakan kecenderungan tersebut terbentuk dari hasil perpaduan antara dorongan yang timbul dari potensi kebutuhan dengan pemahaman manusia tentang status hukum atas alternatif perbuatan yang ada.
Ketika seorang manusia telah mendapatkan pemahaman akan suatu perbuatan baik yang dapat memenuhi berbagai kebutuhannya, maka pada dirinya akan terbentuk kecenderungan berupa perasaan suka dan keinginan untuk dapat mengamalkan perbuatan baik yang dia pahami tersebut. Dan manusia akan memenuhi kebutuhannya dengan perbuatan tadi.
Namun, ketika sesuatu hal dipahami sebagai hal yang buruk dan tercela, maka bisa dipastikan bahwa dia tidak akan menyukai hal tersebut. Singkatnya, sebuah kecenderungan bisa membentuk rasa suka dan rasa ketidaksukaan atas sebuah fakta atau atas suatu pemikiran tertentu.
Berdasarkan hal-hal tersebut, dapat dilihat bahwa perbuatan manusia tidak hanya ditentukan oleh adanya dorongan-dorongan yang muncul dari kebutuhan-kebutuhan yang ada pada dirinya, baik itu kebutuhan yang bersifat fisik maupun yang bersifat naluriah, melainkan juga ditentukan oleh bentuk kecenderungannya terhadap perbuatan-perbuatan yang kelak akan dilakukannya.
Kepribadian manusia bersifat khas. Setiap orang memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri. Namun bila dicermati lebih lanjut, secara umum kepribadian manusia bisa dipisahkan dalam dua kelompok, yaitu kepribadian yang sehat dan kepribadian yang tidak sehat. Pengelompokan ini dirangkum berdasarkan pengamatan terhadap bermacam-macam karakter manusia. Berikut ini adalah rangkumannya.
Kepribadian yang sehat :
- Punya kemauan untuk menilai diri sendiri dan bersikap realistik, yaitu bersedia menilai diri sendiri apa adanya, tentang kelebihan maupun kekurangannya.
- Dapat menghadapi dan menilai situasi dan kondisi kehidupan apa adanya dan bersedia menerimanya secara wajar tanpa bersikeras akan sesuatu yang mustahil, yaitu kondisi kehidupan yang sempurna.
- Bersedia menerima tanggung jawab, karena individu yang berkepribadian sehat yakin dan percaya akan kemampuannya dalam mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
- Bereaksi secara rasional atas prestasi maupun kesuksesan hidup yang diperolehnya. Tidak lantas menjadi sombong, congkak, dan angkuh. Dan sebaliknya, jika mengalami kegagalan dalam hidup pun tidak lantas bereaksi negatif seperti marah-marah, atau frustrasi, melainkan selalu menjaga sikap dan pikiran yang positif dan optimis.
- Bersikap dan berperilaku mandiri dalam cara berpikir, bertindak, maupun dalam mengambil keputusan. Berani mengarahkan diri sendiri dan mengembangkan diri, dan mampu beradaptasi dengan norma-norma yang berlaku di lingkungannya.
- Mampu mengontrol emosi, sehingga tidak hanyut manakala menghadapi situasi yang drepresif, maupun frustratif, dan mampu menghadapi semuanya dengan cara yang positif dan konstruktif.
- Dapat merumuskan tujuan-tujuan yang ingin diraih di setiap aktivitas kehidupannya dengan melalui pertimbangan yang realistis dan rasional, tanpa pengaruh dan bisikan dari luar dirinya, dan berusaha meraih tujuan-tujuan tersebut dengan cara mengembangkan wawasan, pengetahuan, dan ketrampilannya.
- Bersikap luwes dalam berpikir, menghargai, dan menilai orang lain seperti terhadap dirinya sendiri. Berorientasi kepada keterbukaan, respek dan empati terhadap orang lain, memiliki kepedulian terhadap situasi dan masalah-masalah lingkungan.
- Memiliki kemauan dalam berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial dan bersikap bersahabat dalam berinteraksi dengan masyarakat, namun tetap menjaga diri untuk tidak dimanfaatkan menjadi korban orang lain maupun mengorbankan orang lain.
- Memiliki filsafat hidup dan mengarahkan serta menjalani kehidupannya berdasarkan filsafat hidup tersebut yang berakar pada keyakinan agama maupun kepercayaan yang dianutnya.
- Kehidupannya diwarnai dengan banyak kebahagiaan, yang didukung oleh faktor- faktor ; prestasi, penerimaan, dan kasih sayang.
Kepribadian yang tidak sehat :
- Gampang tersinggung (marah).
- Bersikap kejam dan suka mengganggu orang lain yang lebih lemah, yang usianya lebih muda darinya, serta suka menyiksa binatang.
- Tidak memiliki kemampuan untuk menghindar dari perilaku yang menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum.
- Sering merasa tertekan (stress atau depresi).
- Merasa khawatir dan cemas yang berlebihan.
- Suka berbohong, kadang bahkan tidak lagi menyadari kalau sedang berbohong.
- Bersikap memusuhi segala bentuk otoritas.
- Senang mengkritik dan mencemooh orang lain, tanpa mau bercermin dan melihat seperti apa dirinya sendiri.
- Tidak memiliki rasa tanggung jawab dan seringkali bersikap mengabaikan lingkungan sekitarnya.
- Selalu bersikap pesimis dalam menjalani kehidupannya, dan memandang segala hal dalam hidup ini dari sisi yang negatif.
- Sulit tidur, dan kurang bergairah dalam menjalani hidup.
- Kita bisa mengamati kepribadian seseorang dari sisi luar, dalam arti mengenai kesan yang kita tangkap dari seseorang baik berupa perbuatan fisik maupun sikap mental yang diperlihatkannya dalam menjalankan aktivitas kehidupan sehari-harinya. Kepribadian yang dimaksud disini adalah karakter kehidupan seseorang yang memberinya ciri khusus yang membedakannya dari orang lain. Dengan mengetahui kepribadian seseorang, maka kita mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang tersebut.
Dan bisa dibayangkan, bila kita mengenal dan memahami kepribadian banyak orang, maka kita akan menguasai jurus ampuh dalam mempengaruhi banyak orang, yang pada gilirannya akan membuka kesempatan bagi kita untuk menjadi penakluk.
Kepribadian manusia sangat dipengaruhi oleh tatanan dan kaidah-kaidah nilai yang rumit yang secara bertahap terbentuk dari mulai masih kecil. Namun jika diamati, secara garis besarnya, perpaduan antara konsep diri dan karakter manusia lah yang membentuk sebuah pola kepribadian, dimana kedua komponen tersebut saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya.
Pengertian akan konsep diri itu sendiri bisa dibagi dua, yaitu konsep diri yang sebenarnya dan konsep diri yang ideal. Konsep diri yang sebenarnya, adalah mengenai siapa dirinya dan apa saja yang dia tahu tentang dirinya. Konsep diri seperti ini sangat ditentukan oleh peran dan interaksinya di dunia sosial. Sedangkan konsep diri yang ideal adalah gambaran sebuah figur, termasuk didalamnya adalah penampilan dan kepribadian yang didambakannya.
Masing-masing konsep diri tersebut memiliki aspek fisik dan aspek psikologis. Aspek fisik meliputi konsep yang dimiliki seseorang yang berkaitan dengan penampilannya, arti penting tubuhnya sehubungan dengan perilakunya, dan prestise yang diberikan tubuhnya di mata orang lain. Sedangkan aspek psikologis meliputi konsep seseorang tentang kemampuan dan ketidakmampuannya, termasuk juga harga diri dan interaksinya dengan orang lain. Pada awalnya, dari mulai seseorang masih kanak-kanak, kedua aspek yang mempengaruhi konsep diri ini terpisah. Namun, seiring dengan berjalannya waktu menuju dewasa, kedua aspek ini menyatu secara bertahap.
Komponen kedua yang membentuk pola kepribadian adalah karakter individu yang bersangkutan. Karakter merupakan kualitas perilaku yang notabene juga merupakan suatu pola penyesuaian khusus, misalnya reaksi berbeda yang diperlihatkan oleh tiap individu terhadap rasa frustrasi yang dialaminya, cara-cara yang juga berbeda dari tiap individu dalam menghadapi masalah yang menimpanya, perilaku agresif maupun defensif, dan juga perilaku terbuka atau tertutup di hadapan orang lain. Karakter-karakter tersebut terintregasi dengan dan dipengaruhi oleh konsep diri. Dan jika dicermati lebih lanjut, karakter memiliki dua ciri yang menonjol, yaitu :
- Individualitas, yang diperlihatkan dalam variasi kuantitas ciri tertentu, dan bukan dalam kekhasan ciri bagi individu tersebut.
- Konsisten, yang berarti bahwa dalam situasi dan kondisi yang serupa, individu tersebut bersikap dengan cara yang hampir sama.
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, karakter dan konsep diri berkembang seiring dengan berjalannya waktu dari kanak-kanak menuju dewasa. Sehingga, dengan demikian pola kepribadian pun juga mengalami perkembangan. Ada tiga faktor yang menentukan perkembangan kepribadian seseorang. Ketiga faktor tersebut adalah ; faktor bawaan, pengalaman masa kecil, dan pengalaman-pengalaman yang didapat dalam perjalanannya menuju dewasa. Pola tersebut memiliki kaitan yang sangat erat dengan kematangan ciri fisik dan mental yang merupakan unsur bawaan dari individu tersebut. Selanjutnya, ciri fisik dan mental tersebut akan menjadi landasan bagi struktur pola kepribadian yang secara bertahap dibangun melalui pengalaman belajar.
Pengalaman-pengalaman yang didapat melalui proses belajar tersebut membentuk sikap terhadap diri dan menumbuhkan metode yang khas dari individu tersebut dalam menghadapi situasi tertentu, mengatasi masalah, maupun dalam berinteraksi dengan orang lain. Sifat-sifat kepribadian yang demikian terbentuk melalui pengulangan dan kepuasan yang didapatnya. Pengalaman belajar yang pada masa kanak-kanak diperoleh terutama dari rumah, kemudian berkembang seiring bertambahnya usia, dan individu tersebut mendapatkan berbagai pengalaman baik dan buruk dari berbagai lingkungan di luar rumah.
Berbagai pengaruh yang terus-menerus didapat dari berbagai lingkungan akan berpengaruh pada temperamen individu tersebut, yang pada perkembangannya akan berpengaruh kuat dalam membentuk kepribadiannya. Dalam bahasa yang singkat bisa dikatakan bahwa pola kepribadian terbentuk dari pengaruh hereditas dan lingkungan yang berlangsung berulang selama perjalanan individu tersebut dari mulai masa kanak-kanak sampai dewasa. Jadi jika kedua pengaruh tersebut positif, bisa diharapkan perkembangan individu yang sehat secara fisik dan mental. Namun, hal sebaliknya bisa juga terjadi. Jika tekanan dan pengaruh sosial di lingkungan rumah, lingkungan sekolah, dan kelompok pertemanannya bersifat negatif tentu juga akan memberi corak warna tersendiri bagi perkembangan kepribadiannya di kemudian hari.
Sebuah penelitian menyebutkan bahwa kepribadian seseorang bisa dilihat dari bentuk muka atau wajahnya. Berikut ini adalah kutipannya :
- Seseorang yang memiliki bentuk muka cekung cenderung bersifat tenang tapi tidak fleksibel. Penampilannya terkesan mendalam dan cerdas, walaupun sebenarnya tidaklah demikian. Sering membuang-buang waktu dengan masalah-masalah kecil yang sepele. Selain itu juga pendiam, mempunyai ingatan yang baik, dan tertarik kepada hal-hal yang telah berlalu.
- Seseorang yang memiliki bentuk muka cembung cenderung bersifat lincah, pandai, dan cepat dalam berpikir. Lebih senang menjadi pelaku dan pembicara ketimbang menjadi pendengar. Irama hidupnya aktif, praktis, dan tajam otaknya. Namun ada sisi buruk yang melekat pada dirinya, yaitu mudah menjadi bosan dan mudah gelisah.
- Sedangkan seseorang yang memiliki bentuk wajah lurus cenderung bersifat kalem, tenang, dan hati-hati. Selain itu, orang-orang yang berwajah lurus, kebanyakan juga bersifat sabar dan masuk akal, namun terkadang juga keras kepala, jika berpendapat suka ngotot, sisi baik dari orang yang berwajah lurus diantaranya adalah sangat berpendirian dan memiliki kesabaran untuk mengerjakan segala sesuatu dengan seksama.

No comments:
Post a Comment