Friday, October 11, 2019

Puisi Kahlil Gibran tentang Kesedihan


Duka

Duka adalah bayang-bayang Allah
yang tidak tinggal di dalam hati yang jahat.

Duka, kalau dapat berbicara,
akan terbukti lebih manis daripada suka.

Ia yang belum pernah melihat Duka,
takkan pernah melihat Suka.

Roh yang berduka
menemukan ketenangan ketika disatukan
dengan yang serupa.
Mereka bergabung dengan penuh
kasih sayang, seperti seorang asing gembira
ketika melihat orang asing lainnya
di sebuah negeri asing.
Hati yang disatukan
lewat perantaraan duka takkan
dipisahkan oleh kemuliaan kebahagiaan.

Rahasia hati diselubungi oleh duka,
dan hanya di dalam dukalah kita temukan suka kita,
sementara kebahagiaan hanyalah menyembunyikan
misteri kehidupan yang mendalam.
L
Semalam

Semalam aku sendirian di dunia ini, kekasih;
dan kesendirianku...
sebengis kematian...

Semalam diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara...
Di dalam pikiran malam.

Hari ini...
aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan
di atas lidah hari.

Dan, ia berlangsung dalam semenit
dari sang waktu yang melahirkan sekilas pandang,
sepatah kata, sebuah desakan
dan... sekecup ciuman
L

Keputus-asaan

Keputus-asaan adalah masa surut
dari setiap masa pasang dalam hati.
Ia adalah kasih sayang yang tak bersuara.

Keputus-asaan
melemahkan penglihatan kita
dan menutup telinga kita.
Kita tak dapat melihat apa-apa
selain hantu kiamat,
dan hanya dapat mendengar
debaran jantung kita
sendiri yang gelisah.




Keheningan

Kebenaran besar yang melampaui Alam 
tidaklah diteruskan dari satu makhluk 
kepada makhluk lainnya 
lewat perkataan manusia.

Kebenaran memilih keheningan
untuk menyampaikan maknanya 
kepada jiwa-jiwa yang penuh kasih.

Ada sesuatu yang lebih besar 
dan lebih murni 
daripada yang diucapkan mulut. 
Keheningan menerangi jiwa kita, 
berbisik kepada hati kita, 
dan menyatukan mereka.

Keheningan 
memisahkan kita dari diri sendiri, 
menjadikan kita melayang di langit roh, 
dan mendekatkan kita dengan surga.

Ia membuat kita merasa bahwa tubuh 
tidaklah lebih daripada penjara dan dunia ini 
hanyalah tempat pembuangan.



Kesendirian

Roh yang berduka menemukan relaksasi
dalam kesendirian.
Ia membenci orang-orang,
seperti seekor rusa yang terluka
meninggalkan kawanannya
dan tinggal di dalam goa
hingga ia sembuh atau mati.

Kesendirian memiliki tangan
yang halus seperti sutera,
tetapi dengan jari-jemari yang kuat ia mencengkeram hati
dan menjadikannya sakit dengan duka.
Kesendirian adalah sekutu duka
sekaligus teman rohani
yang ditinggikan.
Kehidupanmu, saudaraku,
adalah habitat tersendiri yang terpisah
dari tempat tinggal orang lain.
Itu adalah sebuah rumah
ke dalam mana tak ada orang
yang dapat melihat.

Seandainya rumah itu kekurangan persediaan,
toko-toko sesamamu tak dapat mengisinya.
Kalau rumah itu berdiri di padang gurun,
engkau tak dapat memindahkannya ke kebun orang lain,
yang diolah serta ditanami
oleh tangan-tangan lain.

Kalau rumah itu berdiri di puncak gunung,
engkau tak dapat menurunkannya ke dalam lembah
yang dilewati orang lain.
Kehidupan rohanimu, saudaraku,
terdiri dari kesepian,
dan seandainya bukan karena kesepian
dan kesendirian,
engkau takkan menjadi dirimu,
dan aku takkan menjadi diriku.
Seandainya bukan karena kesepian dan kesendirian ini,
ketika mendengar suaramu aku akan percaya
bahwa itu suaraku.
Atau ketika melihat wajahmu,
aku akan percaya bahwa itu adalah diriku sendiri
yang sedang bercermin.


Wajah-wajah

Waktu tak pernah adil..
Kadang ia berikan waktu yang panjang 
untuk kesedihan...
Dan ia berikan waktu yang sangat pendek 
untuk mengecap kebahagiaan.

Namun Nikmat-Nya yang mana lagikah 
yang harus kudustai?
Panjang pendek waktu... 
harus kunikmati
Sedih ku syukuri...
Bahagia ku syukuri...

Karena hidup hanya sekali

Ketika ku sedih...
Kuingat mereka yang lebih sedih dariku
Agar aku punya lebih banyak semangat
ketika ku sedih..

Kuingat mereka yang sedikitnya mengingatku
Agar ingatan mereka tentangku tak kan pernah pudar

Ketika ku bahagia...
kuingat mereka yang sedang bersedih
agar aku datang dan menghibur mereka
atau menangis bersama

Cinta... rindu... benci... cemburu...
sudah tak ingin kurasakan lagi
Tak mungkin memulai kisah yang tak mungkin terjadi.
Hanya kasih yang ingin kutebarkan
Hanya kasih...
Maka kupejamkan mata dan mengingat wajah-wajah...
Wajah-wajah yang pernah mengenalku satu persatu...
Wajah-wajah yang dengan mengingatnya 
menjadikan ku bahagia....
Dan salah satu wajah itu adalah KAU....




Kasih Sayang dan Persamaan

Sahabatku yang papa,
jika engkau mengetahui,
bahwa Kemiskinan yang membuatmu sengsara itu
mampu menjelaskan pengetahuan tentang Keadilan
dan pengertian tentang Kehidupan,
maka engkau pasti berpuas hati dengan nasibmu.

Kusebut pengetahuan tentang Keadilan:
Karena orang kaya terlalu sibuk mengumpulkan harta
untuk mencari pengetahuan.
Dan kusebut pengertian tentang Kehidupan:
Karena orang yang kuat terlalu berhasrat mengejar kekuatan
dan keagungan bagi menempuh jalan kebenaran.

Bergembiralah,
sahabatku yang papa,
karena engkau merupakan penyambung lidah
Keadilan dan Kitab tentang Kehidupan.
Tenanglah,
karena engkau merupakan sumber kebajikan
bagi mereka yang memerintah terhadapmu,
dan tiang kejujuran bagi mereka
yang membimbingmu.

Jika engkau menyadari,
sahabatku yang papa,
bahwa malang yang menimpamu dalam hidup
merupakan kekuatan yang menerangi hatimu,
dan membangkitkan jiwamu dari ejekan
ke singgasana kehormatan,
maka engkau akan merasa berpuas hati karena pengalamanmu,
dan engkau akan memandangnya sebagai pembimbing,
serta membuatmu bijaksana.

Kehidupan ialah suatu rantai
yang tersusun oleh banyak mata rantai yang berlainan.
Duka merupakan salah satu mata rantai emas antara
penyerahan terhadap masa kini dan harapan masa depan.
Antara tidur dan jaga, di luar fajar merekah.

Sahabatku yang papa,
Kemiskinan menyalakan api keagungan jiwa,
sedangkan kemewahan memperlihatkan keburukannya.
Duka melembutkan perasaan,
dan Suka mengobati hati yang luka.
Bila Duka dan kemelaratan dihilangkan,
jiwa manusia akan menjadi batu tulis yang kosong,
hanya memperlihatkan kemewahan dan kerakusan.

Ingatlah,
bahwa keimanan itu adalah peribadi sejati Manusia.
Tidak dapat ditukar dengan emas;
tidak dapat dikumpulkan seperti harta kekayaan.
Mereka yang mewah sering meminggirkan keimananan,
dan mendekap erat emasnya.

Orang muda sekarang jangan sampai meninggalkan Keimananmu,
dan hanya mengejar kepuasan diri dan kesenangan semata.
Orang-orang papa yang kusayangi,
saat bersama isteri dan anak sekembalinya dari ladang
merupakan waktu yang paling mesra bagi keluarga,
sebagai lambang kebahagiaan
bagi takdir generasi yang akan datang.
Tapi hidup orang yang senang bermewah-mewahan
dan mengumpulkan emas,
pada hakikatnya seperti hidup cacing di dalam kuburan.
Itu menandakan ketakutan.

Air mata yang kutangiskan,
wahai sahabatku yang papa,
lebih murni daripada tawa ria orang yang ingin melupakannya,
dan lebih manis daripada ejekan seorang pencemooh.
Air mata ini membersihkan hati dan kuman benci,
dan mengajar manusia ikut merasakan pedihnya
hati yang patah.

Benih yang kautaburkan bagi si kaya,
dan akan kau tuai nanti,
akan kembali pada sumbernya,
sesuai dengan Hukum Alam.
Dan dukacita yang kausandang,
akan dikembalikan menjadi sukacita oleh kehendak Syurga.
Dan generasi mendatang
akan mempelajari Dukacita dan Kemelaratan
sebagai pelajaran tentang Kasih Sayang dan Persamaan.





Bayang

Setiap langkah ku ada dia...
Mengikuti di belakang punggungnya...
Gelap dan tak terlihat...
Kasat mata...

Terdiam kala banyak yang membicarakannya...
Seakan tak seorang pun memandang kearah ku...
Sibuk mengagumi pesonanya...
Sibuk meminta senyumannya...

Akulah sang tak terlihat...
Saat dia berada di dekat ku...

Akulah sang gelap...
Dibalik wajah cerah nya...

Akulah sang kasat mata...
Ada namun seakan tak ada...

Akulah sang bayang...
Sesuatu yang tak dianggap ada...



Menunggu

Hari terhitung minggu
Minggu pun menjadi bulan...
Pagi ku mengingatmu
Malam ku mengenangmu

Tetap saja semua sama
Sejak kau pergi...
Ku masih saja menanti mu
Hingga kau kembali
Dan takkan tinggalkan ku lagi...
Entah kapan...

Menunggu mu masih...
Setia tetap ku janji...
Hingga ku dapat kau kembali...
Bersama jalani hari...




Rahasia Biruku…

Biru…
aku ingat saat dirimu menatap mataku 
dengan lembut 
dan berkata bahwa cintamu 
merupakan mahakarya indah penuh makna 
yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata
hanya bisa dirasakan dengan hati yang terdalam
Biru…
ternyata dirimulah yang bisa membuatku 
kembali membuka hati
yang tertutup rapat oleh serpihan luka 
yang lama terpendam
membuatku dapat melupakan semua 
keraguan jiwa
dan lebih merasakan hangatnya cinta…

Biru…
kau mampu memberiku warna yang berbeda
di setiap sisi lemahku…
membuatku tertawa, 
tersenyum, 
dan lebih semangat menjalani hari-hariku bersamamu
kau juga memberiku rasa tenang, 
damai, 
dan juga cinta disampingmu
dengan segala kekuranganku

kau memang spesial di hatiku…
kau juga inspirasi di setiap langkah-langkahku…

Biru…
kau sungguh membuatku bersyukur 
karena memilikimu,
memberi sejuta rasa untuk menghargai cinta 
dan indahnya kehidupan…

No comments:

Post a Comment

Puisi Kahlil Gibran tentang Keluarga

Anak Dan seorang perempuan yang menggendong bayi  dalam dekapan dadanya berkata,  Bicaralah pada kami perihal Anak. Dan dia berkata: Anak-an...