Wednesday, October 23, 2019

Puisi Kahlil Gibran tentang Profesi


Guru

Barangsiapa mau menjadi guru,
biarkan dia memulai mengajar dirinya sendiri
sebelum mengajar orang lain,
dan biarkan dia mengajar dengan teladan
sebelum mengajar dengan kata-kata.

Sebab mereka yang mengajar dirinya sendiri
dengan memperbaiki perbuatan-perbuatannya sendiri
lebih berhak atas penghormatan
dan kemuliaan
daripada mereka yang hanya mengajar orang lain
dan memperbaiki perbuatan-perbuatan
orang lain.

---

Penyair

Dia adalah rantai penghubung
Antara dunia ini dan dunia akan datang
Kolam air manis buat jiwa-jiwa yang kehausan,
Dia adalah sebatang pohon tertanam
Di lembah sungai keindahan
Memikul bebuah ranum
Bagi hati lapar yang mencari.

Dia adalah seekor burung nightingale
Menyejukkan jiwa yang dalam kedukaan
Menaikkan semangat dengan alunan 
melodi indahnya

Dia adalah sepotong awan putih di langit cerah
Naik dan mengembang memenuhi angkasa.
Kemudian mencurahkan kurnianya 
di atas padang kehidupan. 
Membuka kelopak mereka 
bagai menerima cahaya.

Dia adalah malaikat diutus Yang Maha Kuasa 
mengajarkan Kalam Ilahi.
Seberkas cahaya gemilang tak kunjung padam.
Tak terliput gelap malam
Tak tergoyah oleh angin kencang
Ishtar, dewi cinta, 
meminyakinya dengan kasih sayang
Dan, nyanyian Apollo menjadi cahayanya.

Dia adalah manusia yang selalu bersendirian,
hidup serba sederhana dan berhati suci
Dia duduk di pangkuan alam mencari inspirasi ilham
Dan berjaga di keheningan malam,
Menantikan turunnya ruh

Dia adalah si tukang jahit 
yang menjahit benih hatinya di ladang kasih sayang
dan kemanusiaan menyuburkannya

Inilah penyair yang dipinggirkan 
oleh manusia
pada zamannya,
Dan hanya dikenali sesudah jasad ditinggalkan
Dunia pun mengucapkan selamat tinggal 
dan kembali ia pada Ilahi

Inilah penyair yang tak meminta apa-apa
dari manusia kecuali seulas senyuman
Inilah penyair yang penuh semangat dan memenuhi
cakerawala dengan kata-kata indah
Namun manusia tetap menafikan kewujudan 
keindahannya

Sampai bila manusia terus terlena?
Sampai bila manusia menyanjung penguasa yang
meraih kehebatan dengan mengambil kesempatan??
Sampai bila manusia mengabaikan mereka? 
Yang boleh memperlihatkan keindahan 
pada jiwa-jiwa mereka
Simbol cinta dan kedamaian?

Sampai bila manusia 
hanya akan menyanjung jasa orang yang sudah tiada?
dan melupakan si hidup yang dikelilingi penderitaan
yang menghambakan hidup mereka seperti lilin menyala
bagai menunjukkan jalan yang benar bagi orang yang lupa

Dan oh para penyair,
Kalian adalah kehidupan dalam kehidupan ini:
Telah engkau tundukkan abad demi abad termasuk tirainya.
Penyair....
Suatu hari kau akan merajai hati-hati manusia
Dan, karena itu kerajaanmu adalah abadi.

Penyair....
periksalah mahkota berdurimu....
kau akan menemui kelembutan 
di sebalik jambangan bunga-bunga Laurel…




Pedagang

Apakah engkau pedagang yang mengambil keuntungan
dari kebutuhan rakyat?
Memoles barang-barang untuk menjualnya kembali
dengan harga selangit?
Kalau ya, 
engkau adalah orang yang tidak bermoral.
Dan tidak menjadi soal 
apakah rumahmu adalah istana atau penjara.

Atau apakah engkau orang yang jujur?
Yang memberdayakan petani dan penenun 
untuk menukarkan produk-produk mereka.
Yang menjadi perantara 
diantara pembeli dan penjual,
Dan lewat cara-caranya yang adil, 
meraih keuntungan bagi dirinya maupun orang lain?
Kalau ya, 
engkau adalah orang yang benar.
Dan tidak menjadi soal 
apakah engkau dipuji atau disalahkan.



Dokter

Semenjak awal dunia, 
para dokter telah berusaha menyelamatkan manusia 
dari berbagai penyakit mereka.
Ada yang menggunakan pisau, 
sementara yang lain menggunakan ramuan. 
Tetapi wabah penyakit tetap saja menyebar kemana-mana.

Sungguh aku berkeinginan 
agar sang pasien mencukupkan dirinya 
dengan tetap tinggal di tempat tidurnya yang kotor, 
merenungkan bisul-bisulnya yang tak kunjung hilang.

Tetapi ia malah mengulurkan tangannya dari balik jubahnya 
dan mencekik leher setiap orang yang datang 
membesuknya sampai mati.

Sungguh ironis!!
Pasien yang jahat membunuh sang dokter, 
lalu memejamkan matanya dan berkata pada diri sendiri;
“Sesungguhnya, ia dokter yang hebat”.



Pujangga

Wahai pujangga, 
engkaulah kehidupan dari kehidupan ini. 
Dan engkau telah menang atas zaman 
terlepas dari kekejaman mereka.

Wahai pujangga, 
engkau akan menguasai hati suatu hari kelak, 
dan oleh karenanya kerajaanmu tiada akhir.

Wahai pujangga, periksalah mahkota durimu. 
Engkau akan menemukan tersembunyi di dalamnya, 
rangkaian bunga yang bertunas.

---

Apakah engkau seorang pujangga 
yang penuh dengan suara kosong?

Kalau ya, 
engkau adalah seperti penipu 
yang membuat kami tertawa ketika ia menangis, 
dan membuat kami menangis ketika ia tertawa.

Atau, apakah engkau jiwa yang dikaruniai, 
yang ke dalam tangannya telah ditempatkan oleh Allah 
sebuah biola untuk menyejukkan roh dengan musik surgawi, 
dan mendekatkan sesama manusia 
kepada kehidupan 
dan indahnya kehidupan?

Kalau ya, 
engkau adalah obor yang menerangi kami 
di jalan kami, 
kerinduan manis dalam hati kami, 
dan wahyu Illahi dalam mimpi-mimpi kami.

---



Pemimpin Agama

Apakah engkau pemimpin agama, 
yang dari kesederhanaan orang yang percaya, 
menenun sebuah jubah merah bagi tubuhnya.

Dan dari kemurahan mereka,
membuat mahkota emas bagi kepalanya, 
dan sambil hidup di atas kelimpahan iblis, 
mengucapkan kebenciannya kepada iblis?

Kalau ya, 
engkau adalah seorang klenik. 
Dan tidak menjadi soal, 
apakah engkau berpuasa sepanjang siang 
dan berdoa sepanjang malam.

Atau, apakah engkau orang percaya 
yang dalam kebaikan rakyat menemukan suatu landasan kerja 
untuk perbaikan seluruh bangsa, 
dan yang di dalam jiwanya 
terdapat tangga kesempurnaan menuju Roh Kudus?
Kalau engkau seperti itu, 
engkau adalah seperti bunga bakung di kebun kebenaran. 
Dan tidak menjadi soal apakah semerbakmu hilang
di antara manusia, 
atau tersebar di udara, 
di mana ia akan selamanya dilestarikan.




Penulis

Apakah engkau seorang penulis
yang menegakkan kepalanya tinggi-tinggi
di atas orang banyak,
sementara otaknya berada di dalam jurang
tak berdasar masa silam,
yang penuh dengan gombal serta buangan masa?

Kalau ya,
engkau adalah seperti kolam air yang mandek.
Atau,
apakah engkau pemikir yang menelaah bathinnya,
membuang yang tidak bermanfaat,
usang serta jahat,
dan memelihara yang bermanfaat dan baik?
Kalau ya,
 engkau adalah seperti makanan bagi yang lapar,
dan seperti air jernih dan sejuk bagi yang haus.

---


Wartawan

Apakah engkau seorang wartawan 
yang menjual prinsip-prinsipnya di pasar budak 
dan yang menggemukkan diri dengan gossip, 
kemalangan, serta kejahatan?

Kalau ya, 
engkau adalah seperti burung pemakan bangkai
yang rakus, 
yang memangsa jasad 
yang telah membusuk.




Artis

Aku sama saja mengkhianati seniku sendiri
seandainya kupinjam mata modelku. 
Wajah adalah cermin yang mengagumkan,
yang paling setia memantulkan bathin jiwa.

Urusan sang artis adalah melihatnya, 
dan memproyeksikannya.

Kalau tidak, 
ia tidak pantas disebut artis.


Patriot

Apakah engkau seorang politikus
yang berkata kepada diri sendiri;
“Aku akan menggunakan negaraku
demi keuntunganku sendiri?”

Kalau ya,
engkau hanyalah parasit
yang hidup di dalam daging orang lain.

Atau, apakah engkau patriot yang setia,
yang berbisik ke telinga bathinnya sendiri;
“Aku senang melayani negaraku
sebagai hamba yang setia”

Kalau ya,
engkau adalah oase di padang rumput,
siap memuaskan dahaga orang yang lewat.



Gubernur

Apakah engkau gubernur 
yang memandang rendah rakyatmu, 
tidak pernah terjun ke bawah
selain untuk menggeledah saku mereka, 
atau mengeksploitasi mereka 
demi keuntunganmu sendiri?
Kalau ya,
engkau adalah seperti ilalang 
di lantai pengirikan gandum bangsa.

Atau, apakah engkau hamba setia 
yang mengasihi rakyat 
dan selalu memperhatikan kesejahteraan mereka, 
dan bersemangat demi sukses mereka?

Kalau ya, 
engkau adalah berkat 
dalam lumbung gandum negara.


No comments:

Post a Comment

Puisi Kahlil Gibran tentang Keluarga

Anak Dan seorang perempuan yang menggendong bayi  dalam dekapan dadanya berkata,  Bicaralah pada kami perihal Anak. Dan dia berkata: Anak-an...