Wednesday, October 23, 2019

Puisi Kahlil Gibran tentang Manusia


Manusia

Manusia adalah roh Makhluk Yang Maha Tinggi di bumi,
dan manusia itu berdiri di tengah-tengah reruntuhan,
menyembunyikan ketelanjangannya
di balik pakaian compang-camping,
menitikkan air mata di pipi-pipi yang cekung,
dan memanggil anak-anaknya dengan suara memilukan.

Tetapi anak-anaknya sibuk menyanyikan lagu kesukuannya.
Mereka sibuk mempertajam pedang
dan tak dapat mendengar seruan ibu-ibu mereka

Manusia adalah roh Makhluk Yang Maha Tinggi di bumi,
dan Makhluk Yang Maha Tinggi itu
mengkhotbahkan kasih dan itikad baik.
Tetapi manusia mengolok ajaran-ajaran seperti itu.

Yesus dari Nazareth mendengarkan,
dan malah disalibkan.
Socrates mendengar suara itu dan mengikutinya,
dan iapun menjadi korban dalam tubuh.

Para pengikut Yesus dari Nazareth dan Socrates
adalah pengikut ilahi,
dan karena manusia tidak mampu membunuh mereka,
mereka mencemooh mereka,
sambil mengatakan,

“Olokan itu lebih pahit daripada pembunuhan.”

Jiwaku berkhotbah kepadaku
dan menunjukkan bahwa aku tidaklah lebih besar
daripada kurcaci,
atau lebih kecil daripada raksasa.

Sebelum jiwaku berkhotbah kepadaku,
aku memandang manusia sebagai dua orang,
yang satu lemah, yang kukasihani,
dan yang lain kuat, yang kuikuti atau kulawan.

Tetapi sekarang telah kupelajari
bahwa aku sama seperti keduanya
dan dibuat dari unsur-unsur yang sama.
Asal muasalku adalah asal muasal mereka,
nuraniku adalah nurani mereka,
argumentasiku adalah argumentasi mereka,
dan peziarahanku adalah peziarahan mereka.

Kalau mereka berdosa,
aku juga pendosa.

Kalau mereka berbuat baik,
aku turut bangga akan perbuatan baik mereka.

Kalau mereka bangkit,
aku bangkit bersama mereka.

Kalau mereka diam,
aku ikut serta dalam kemalasan mereka.

---

Aku mengasihi umat manusia
dan aku sama mengasihi ketiga tipe manusia...

Yang menghujat kehidupan,
yang memberkati kehidupan,
dan yang merenungkan kehidupan.

Aku mengasihi yang pertama
karena kenelangsaannya
 dan yang kedua karena kemurahannya
dan yang ketiga karena persepsi dan kedamaiannya.

---


Gadis

Tak ada kasih sayang 
yang lebih murni 
dan lebih menyejukkan roh 
daripada yang tersembunyi 
di dalam hati seorang gadis 
yang tiba-tiba bangkit 
dan memenuhi rohnya sendiri 
dengan musik sorgawi 
yang menjadikan hari-harinya 
seperti impian pujangga, 
dan malam-malamnya penuh nubuat.



Perawan

Tak ada rahasia
dalam misteri kehidupan
yang lebih kuat dan lebih indah
daripada keterlekatan
yang mengubah keheningan roh seorang perawan
menjadi kesadaran kekal
yang membuat seseorang melupakan masa silam,
sebab ia mengobarkan di dalam hati,
manisnya pengharapan
akan masa depan.

---



Wanita

Seorang wanita 
yang telah diberikan kecantikan roh dan tubuh 
oleh pemeliharaan adalah suatu kebenaran,
terbuka sekaligus rahasia, 
yang dapat kita pahami hanya dengan kasih, 
dan dapat kita sentuh hanya dengan kebajikan, 
dan ketika kita berupaya menggambarkan wanita seperti itu, 
ia menghilang seperti uap.

---

Wanita membuka jendela mataku 
dan pintu rohku.

Seandainya bukan berkat ibu, 
saudara perempuan, 
dan sahabat perempuan, 
aku tentu akan tidur di antara mereka-mereka 
yang mencari kedamaian dunia 
dengan dengkuran mereka.

---

Para penulis dan pujangga 
berusaha memahami kebenaran tentang wanita.

Tetapi hingga hari ini 
mereka belum memahami hatinya, 
sebab memandangnya lewat selubung hasrat.

Mereka hanya melihat bentuk tubuhnya saja,
atau mereka memandangnya lewat kaca pembesar 
itikad buruk dan tidak menemukan apa-apa dalam dirinya 
selain kelemahan dan kepasrahan.

---


Wanita Modern

Peradaban modern
telah menjadikan wanita sedikit lebih bijaksana, 
tetapi telah menambah penderitaannya 
akibat keinginan besar pria.

Wanita hari kemarin adalah isteri yang bahagia, 
tetapi wanita jaman sekarang 
adalah simpanan yang nelangsa.

Di masa silam ia berjalan buta di dalam terang, 
tetapi sekarang ia berjalan 
dengan mata terbuka di dalam gelap.

Dulunya ia cantik dalam ketidaktahuannya, 
penuh kebajikan dalam kesederhanaannya, 
dan kuat di dalam kelemahannya.

Sekarang ia menjadi buruk 
di dalam kejeniusannya,
 dangkal dan tidak berperasaan 
di dalam pengetahuannya.
Akankah tiba harinya 
ketika kecantikan dan pengetahuan, 
kejeniusan dan kebajikan, 
dan kelemahan tubuh dengan kekuatan roh 
bersatu dalam diri seorang wanita?


No comments:

Post a Comment

Puisi Kahlil Gibran tentang Keluarga

Anak Dan seorang perempuan yang menggendong bayi  dalam dekapan dadanya berkata,  Bicaralah pada kami perihal Anak. Dan dia berkata: Anak-an...