Manusia adalah spesies yang berakal, yang berbeda tingkat kecerdasannya pada tiap-tiap individu. Dimulai ketika seorang anak manusia dilahirkan, ia tidak mempunyai haluan apapun. Seiring dengan bertambahnya usia menuju kedewasaan, manusia mengalami bermacam-macam pembelajaran, dan menuai beraneka ragam pengalaman. Semua itu membentuknya menjadi makhluk yang berpikir dan membuatnya menjadi cerdas dan bijaksana.
Dengan kemampuan berpikirnya, ia dapat menimbang apa yang sebaiknya dia lakukan di masa sekarang atau di masa mendatang berdasarkan analisanya mengenai masa lalu yang merupakan salah satu wujud pengalaman.
Dalam sejarahnya, manusia selalu memiliki rasa ingin tahu. Namun demikian, rasa keingintahuan manusia yang satu dengan lainnya tidaklah sama, karena perkembangan pikiran masing-masing individu dari waktu ke waktu mengalami peningkatan yang tidak sama pula. Sifat serba ingin tahu yang melekat pada manusia tidak terlepas dari kebiasaannya yang selalu mempertanyakan segala hal. Dan manusia tidak pernah puas jika yang dipertanyakannya tidak mendapatkan jawaban.
Rasa ingin tahu manusia pada awalnya berkisar pada keinginan untuk mengenal dirinya sendiri, yang kemudian didapatkannya jawaban atas hal tersebut bahwa diri manusia tersusun dari dua komponen yaitu jasmani dan rohani, yang dalam perkembangannya, pengetahuan tersebut menjelma dan berkembang di dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan fisik dan psikis.
Setelah melewati tahap tersebut, perkembangan selanjutnya adalah keingintahuan manusia akan segala hal di alam sekitarnya. Dengan daya nalar dan kemampuan bahasa yang dimilikinya, manusia berkomunikasi dan bertukar pengalaman mengenai segala hal yang ada di alam ini serta manfaat-manfaat apa yang bisa diambil dan menguntungkan bagi dirinya.
Namun demikian, ada keterbatasan pada diri manusia untuk bisa mengeksplorasi secara luas. Sehingga manusia berusaha menciptakan berbagai alat yang bisa membantunya mengatasi keterbatasannya tersebut. Mulai dari alat-alat sederhana pada awal terbentuknya kebudayaan manusia (misalnya alat-alat dari batu dan kayu) sampai dengan alat-alat yang lebih modern seiring dengan berkembangnya jaman (misalnya bermacam-macam mesin dan alat-alat berteknologi lainnya). Dengan peralatan tersebut, manusia sangat terbantu dalam mengeksplorasi alam ini untuk menjawab segala rasa ingin tahunya, walaupun sebagian besar masih merupakan teka-teki yang sulit ditemukan jawabannya.
Ada paham yang bersumber pada akal manusia, bahwa manusia berpikir rasional. Dengan demikian, manusia menerima sesuatu atas dasar kebenaran pikiran atau rasio. Dengan berpikir rasional, manusia dapat menyadari hubungan antara apa yang telah diketahuinya dengan apa yang sedang dihadapinya, sehingga bisa memprediksi kemungkinan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kemampuan manusia dalam menggunakan daya akalnya disebut inteligensi. Perbedaan kemampuan tersebut pada tiap-tiap manusia menghasilkan penilaian yang berbeda-beda pula. Sehingga ada yang disebut sebagai yang berinteligensi rendah, normal, dan tinggi.
Dalam perkembangan sejarah manusia, terdapat kesan bahwa pada mulanya perasaan dan emosi manusialah yang sangat berperan dalam kehidupannya, sehingga timbul agama atau kepercayaan, dan rasa sosial. Namun seiring dengan kemajuan jaman, dan semakin bertambah banyaknya persoalan yang harus dihadapi, menyebabkan manusia semakin banyak mengedepankan akalnya dalam usahanya mencari solusi bagi persoalan-persoalan hidupnya, dan tidak lagi mementingkan perasaan.
Pada awalnya, manusia memperoleh pengetahuan dengan prasangka, artinya adalah sebelum menyangka. Ketika sesuatu belum secara pasti terjadi, maka manusia dapat menyangka bahwa suatu hal ada kemungkinan benar terjadi. Sangkaan lebih banyak mengedepankan emosi dan perasaan daripada pikiran, dan belum ada bukti-bukti kebenarannya. Sebagai contoh, orang jaman dahulu menyangka bahwa bumi itu berbentuk datar.
Namun seiring berkembangnya akal pikiran manusia, terbukti bahwa bumi berbentuk bulat. Atau ketika jaman dahulu orang Babilonia menyangka bahwa hujan terjadi karena atap langit ada yang bocor, ternyata ilmu pengetahuan membuktikan lain.
Manusia memperoleh pengetahuannya selain dengan menggunakan prasangka, juga dari intuisi yang merupakan suatu pandangan bathiniah tanpa melewati urut-urutan pemikiran. Sehingga dengan serta-merta, pandangan bathiniah tersebut langsung tembus mengenai suatu peristiwa atau suatu kebenaran atau biasa disebut sebagai “ilham.” Sebuah intuisi tidak pernah disertai dengan proses berpikir sebelumnya, malah lebih sering muncul dalam keadaan setengah sadar, atau samar-samar.
Namun, secara tiba-tiba dan pasti memunculkan suatu keyakinan yang tepat. Unsur kepastian dalam intuisi lebih mirip dengan insting. Sedangkan pengertian terhadap kebenarannya memerlukan prasangka tersendiri. Pada umumnya, kaum wanita memiliki logika berpikir yang sifatnya intuitif. Yang dapat diterima oleh akal namun belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya.
Begitulah perkembangan alam pikiran manusia dari waktu ke waktu. Dengan Anda mendalami pengetahuan tersebut di atas, maka Anda telah mengasah kemampuan analisis Anda terhadap apa yang dipikirkan oleh orang lain, menjadi lebih tajam. Tetapi, walaupun demikian, keberhasilan Anda dalam membaca pikiran orang lain tentu perlu didukung dengan kemampuan Anda pada beberapa hal, mulai dari pemahaman akan simbol, isyarat, dan kemampuan berkomunikasi secara verbal maupun non-verbal.

No comments:
Post a Comment